Daftar Anak - Anak Yonko Big Mom

Daftar nama anak-anak dan suami Charlotte Linlin (Big Mom) dapat menunjukkan betapa kuatnya sosok satu-satunya Yonko perempuan ini. Ia memiliki total 85 anak, yang terbagi menjadi 39 anak perempuan dan 46 anak lelaki. Big Mom juga menikah dengan 43 suami; dan tidak ada satupun suaminya yang mampu mengalahkan dirinya. Big Mom sendiri menganggap pernikahan serba politik. Ia menikahkan anak-anaknya dengan tujuan untuk mendapatkan alians tangguh yang berguna untuk memperkuat Bajak Laut Big Mom yang dikomandoinya.

Sebagai Yonko, Big Mom memiliki karakter yang sangat egois; yang menjadi dasarnya untuk menjadi Raja Bajak Laut. Di masa lalu, Big Mom nyaris mendapatkan jalan ke Raftel, tetapi didahului oleh Gol d Roger yang mampu mendengarkan suara segala sesuatu (voice of all things). Big Mom berniat menguasai dunia untuk membuat semua orang bisa duduk bersamanya dalam jamuan makan.

Prinsip kesetaraan yang aneh ini didapatkan Big Mom dari perjalanan hidupnya. Di masa kecil, Big Mom (Linlin) sangat ditakuti dan dibenci oleh anak-anak seumurannya karena rakus, bodoh, dan tidak tahu cara menolong orang lain dengan kekuatan supernya. Big Mom juga memahami konsep kesetaraan ini dari pengalamannya bersama Mother Caramel; sosok yang dipuja-pujanya, padahal sebenarnya nyaris menjual Linlin ke Angkatan Laut, sebelum secara tidak sengaja disantap sendiri oleh Linlin yang berulang tahun.

Ketika dewasa, karakter 'bodoh' dan egois Big Mom tetap bertahan; ditambah dengan kekuasaannya yang makin luas. Hal ini berpengaruh pula dalam caranya memandang konsep keluarga. Bagi Big Mom, suami adalah orang asing yang bisa disingkirkan atau dibunuh; hanya karena mereka tidak punya hubungan darah. Big Mom juga memandang rendah semua anaknya. Ia marah ketika Lola, sang putri, melarikan diri dari pernikahannya dengan pangeran Elbaf, Loki. Bahkan Big Mom mengharapkan Lola mati saja.

Sikap kasar dan tega Big Mom ini membuat anak-anaknya takut kepadanya; seperti yang dilakukan oleh Charlotte Opera yang tidak berani membocorkan lolosnya Luffy dan Nami dari Dunia Buku karena takut dihabisi oleh ibunya sendiri. Di sisi lain, anak-anak perempuan Big Mom yang punya suami berseberangan pandangan dari sang ibu, ada kecenderungan untuk membangkang. Hal ini bisa ditunjukkan dari Charlotte Pralin, istri Aladdin, first mate Bajak Laut Matahari yang mendukung penggulingan Big Mom. Begitu pula Charlotte Chiffon yang mendukung suaminya Capone Bege yang terang-terangan mengkhianati sang ibu.

Berikut ini daftar nama anak-anak Big Mom. Angka di belakangnya menunjukkan urutan kelahiran anak tersebut.

Anak Laki-Laki
Charlotte Perospero (1)
Charlotte Katakuri (2)
Charlotte Daifuku (3)
Charlotte Oven (4)
Charlotte Opera (5)
Charlotte Counter (6)
Charlotte Cadenza (7)
Charlotte Cabaletta (8)
Charlotte Gala (9)
Charlotte Cracker (10)
Charlotte Moscato (16)
Charlotte Mont-d'Or (19)
Charlotte Bavarois
Charlotte Mascarpone
Charlotte Nusstorte 
Charlotte Dolce
Charlotte Dragée
Charlotte Anglais

Anak Perempuan
Charlotte Compote (1)
Charlotte Amande
Charlotte Brûlée (8)
Charlotte Smoothie (14)
Charlotte Galette (18)
Charlotte Chiffon (22)
Charlotte Lola (23)
Charlotte Praline (29)
Charlotte Puding (35)
Charlotte Joscarpone
Charlotte Myukuru
Charlotte Anana

Carrot, Apakah akan menjadi Kru Mugiwara No Luffy selanjutnya?

Dalam karakter One Piece kali ini kita akan membahas Carrot, kelinci dari suku Mink. Ia terlibat dalam perjalanan Bajak Laut Topi Jerami menyelamatkan Sanji dari Yonko Big Mom. Muncul pertanyaan, apakah Carrott bakal menjadi kru Topi Jerami di kemudian hari? Ataukah ia 'hanya muncul' sebagai teman kelompok tersebut, seperti yang terjadi misalnya, pada Kin'emon dan Momonosuke?

Carrot pertama kali muncul di Chapter 804 ketika kelompok Luffy yang baru saja datang dari Dressrosa, mendarat di Pulau Zou. Sebagai suku Mink, ia terbukti sangat tangguh. Ia masuk dalam Skuad Musketeer di bawah perintah penguasa Zou, Inurasahi. Carrot adalah salah satu anggota perempuan di kelompok ini, selain Wanda.

Selain itu, Carrot dapat menghindari tebasan Roronoa Zoro dengan mudah. Meskipun Zoro 'tabu' melukai perempuan, kita dapat melihat Carrot sebagai sosok yang tangkas dan punya kecepatan luar biasa, sesuai karakternya, kelinci.

Carrot terlibat lebih jauh dalam perjalanan Bajak Laut Topi Jerami, setelah ia menyusup ke Thousand Sunny. Carrot yang polos, tidak mengira jika perjalanan menuju markas Big Mom tersebut sebagai hal yang menyeramkan. Ia mengira perjalanan itu mengasyikkan, terpancing oleh keceriaan Luffy. Selain itu, Carrot selama ini selalu tinggal di Pulau Zou sehingga tidak mengetahui apa-apa dari dunia luar. Misalnya, ia tidak tahu perjalanan melawan Big Mom bisa memakan waktu sekian hari. Ia juga ketakutan ketika pertama kali melihat petir, menyangkanya sebagai listrik.

Kepolosan Carrot tampaknya cocok dengan Luffy, meski keduanya juga punya masalah sendiri. Di Chapter 823, Luffy yang gemar makan, menyantap wortel yang dibawa Carrot sehingga kelinci  perempuan suku Mink ini menyerang Luffy. Bahkan Luffy sempat kewalahan sebelum Nami meminta ia mengelus-elus kepala Carrot. Kemudian Pedro menyebut jika Carrot bisa jadi lebih kuat dibandingkan beberapa kru Topi Jerami.

Satu yang pasti, Carrot akan menjadi 'anggota sementara' Bajak Laut Topi Jerami seperti halnya Pedro. Kemungkinan keduanya bertahan hingga Luffy dan kawan-kawan menyelesaikan masalah dengan Big Mom. Namun, apakah ia bakal menjadi nakama baru Luffy? Tampaknya untuk yang satu ini, ada kecenderungan kita berkata 'tidak'.

Daftar Komandan Manis Big Mom & Harga Bounty Mereka

Dalam karakter One Piece kali ini kita akan membahas siapa saja Komandan Manis Bajak Laut Big Mom dan berapa harga bounty mereka. Sebelumnya, ada empat Komandan Manis yang dimiliki oleh Big Mom. Namun Komandan Snack dikalahkan oleh Supernova Urouge sehingga tinggal tersisa tiga komandan yang dihadapi Bajak Laut Topi Jerami: Charlotte Cracker, Charlotte Smoothie, dan Charlotte Katakuri.

Di dalam One Piece, sangat normal jika seorang Yonko memiliki banyak komandan. Misalnya Edward Newgate alias Shirohige yang mempunyai 16 komandan divisi dan 43 kapten aliansi bajak laut yang bergabung dengannya. Demikian pula sang pengganti, Marshall D Teach alias Kurohige yang memiliki 10 komandan armada perang.

Sedangkan Charlotte Linlin alias Big Mom memiliki Komandan Manis/ Sweet Commanders/ Suito Shosei. Masing-masing memiliki daerah kekuasaan sendiri-sendiri. Tiga Komandan Manis Big Mom yang tersisa, yang muncul di Whole Cake Island, juga memilki harga bounty yang sangat mahal. Yang terendah di antara mereka adalah Cracker, dan yang tertinggi Katakuri.

Charlotte Cracker
Cracker adalah Komandan Manis pertama yang dihadapi oleh Bajak Laut Topi Jerami. Ia memiliki julukan 'Thousand Arms Cracker"/ 'Senju no Kurakka' atau 'Cracker Si 1000 Tangan'. Julukan ini didasarkan pada kemampuan Bisu Bisu no Mi milik Cracker, yang dapat menggandakan tubuh atau bagian tubuh tertentu.
Selama ini, Cracker menipu Angkatan Laut dan Pemerintahan Dunia dengan memakai jubah khusus sehingga wajah aslinya tidak diketahui publik. Hanya saat melawan Luffy dan Nami sajalah, wajah Cracker yang sesungguhnya terekspos. Harga bounty-nya luar biasa mencapai 860.000.000 berry, tetapi lebih rendah dibandingkan Smoothie dan Katakuri.
Cracker sendiri adalah anak lelaki ke-10 Big Mom. Dia adalah Menteri Biskuit Totto Land, dan memimpin Pulau Biskuit.

Charlotte Smoothie
Smoothie adalah satu-satunya Komandan Manis perempuan. Smoothie juga merangkap jabatan sebagai Menteri Keadilan Totto  Land. Smoothie adalah 'hibrid' antara manusia dan anggota suku Kaki Panjang. Ia memiliki tinggi mencapai sekitar lima meter. Smoothie ini merupakan anak perempuan ke-14 Big Mom.
Smoothie memiliki buah iblis tipe paramecia, yang bisa memeras objek apapun yang dipegangnya menjadi jus, entah itu makhluk bernyawa atau tidak. Ia memiliki harga bounty yang sangat besar, mencapai 932.000.00 berry.

Charlotte Katakuri
Katakuri adalah Komandan Manis terkuat. Ia putra kedua Big Mom, dan merupakan kembar tiga bersama Daifuku dan Oven. Ia menjabat pula sebagai Menteri Tepung Totto Land dan memiliki kekuasaan di Pulau Gandum.
Katakuri memiliki kekuatan buah iblis Mochi Mochi no Mi yang membuat semua benda yang dipegangnya bisa menjadi kue mochi. Namun yang lebih sakti darinya adalah kemampuan kenbunshoku haki yang sangat tinggi, sehingga Katakuri bisa memprediksi gerakan atau tindakan lawan.
Katakuri memiliki wajah asli yang mengerikan, dengan mulutnya bagai mulut anjing. Hal ini ditutupi Katakuri, sesuai dengan karakternya yang tenang dan penuh wibawa. Harga bountynya mencapai 1.057.000.000 berry dan menjadi lawan langsung pertama Luffy yang punya bounty di atas 1 miliar.

Review Film Sinister 2012

Sebuah ambisi yang besar akan memberikan anda tekanan yang besar pula. Hal tersebut akan semakin berat ketika anda memiliki masa lalu yang cukup cemerlang, namun kini berada dalam kondisi sebaliknya. Ellison Oswalt (Ethan Hawke), seorang novelis yang selalu mengangkat tema kejahatan nyata yang pernah terjadi sebagai bahan bukunya, bersama keluarganya pindah ke sebuah rumah yang memiliki cerita masa lalu kelam, yang pada akhirnya membawa sebuah bencana besar bagi keluarganya.

Dibuka dengan satu keluarga yang terdiri dari empat orang, mati perlahan dengan tergantung di pohon, anda akan langsung menyaksikan seorang gadis kecil bernama Ashley (Clare Foley), anak perempuan dari Ellison dan Tracy (Juliet Rylance), sedang asyik menggambar di dinding kamar barunya, dan menolak untuk membantu mengemasi barang kedalam rumah baru mereka. Ya, sebenarnya Ashley tidak ingin pindah, karena itu hanyalah tuntutan pekerjaan dari ayahnya.

Benar, rumah tersebut adalah objek terbaru Ellison untuk proyek terbarunya, dengan kasus utama hilangnya seorang anak bernama Stephanie. Singkat cerita, Ellison menemukan sebuah kotak di loteng rumah barunya, yang berisikan sebuah proyektor dengan beberapa cuplikan super 8 yang masing-masing memiliki label, dengan jarak tahun yang cukup besar. Ya, itu adalah cuplikan tentang proses pembunuhan sadis beberapa keluarga. Semua semakin menarik ketika Ellison menemukan sesosok setan disalah satu cuplikan tersebut, sedang menonton proses pembunuhan, tanpa terlibat didalamnya.


Pertama, sejak awal saya sudah disuguhkan satu tokoh yang berhasil membuat saya tertarik dengan permasalahan yang ia hadapi. Ellison, pria yang tidak santai dan memiliki sebuah aturan khusus untuk istri dan kedua anaknya, Ashley dan Trevor (Michael Hall D'Addario). Tidak boleh ada yang masuk kedalam ruang kerjanya, tidak satupun, dan itu memberikan impresi bahwa karakter satu ini benar-benar dalam tekanan yang sangat besar dengan buku barunya, namun anehnya anda akan menilai bahwa ia adalah pria yang kuat.

Scott Derrickson sukses mengikat saya sejak awal film bergulir dengan cuplikan pembunuhan yang singkat itu. Dia berhasil menciptakan sebuah kasus yang jelas dengan kadar daya tarik yang besar. Konflik utama memiliki tekanan yang besar, kemudian hadir konflik pendukung yang berhasil menambah beban dari konflik utama. Tekanan dari sang istri, masa depan keluarganya jika buku itu gagal sukses, dan anaknya Trevor yang terus mengalami mimpi buruk, semua bekerja dengan baik.

Memang, anda tidak akan menemukan sesuatu yang baru dalam cara film ini menyampaikan ceritanya. Ya, cara klasik, suasana gelap disertai score yang soft membentuk kondisi mencekam, kemudian disertai rasa cemas akan kehadiran sosok makhluk halus disekitar karakter utama dengan bunyi-bunyi aneh. Tapi, kali ini itu semua berhasil membuat saya takut. Dengan dibantu unsur mockumentary, film ini sukses membuat saya untuk terus menjaga agar saya tetap cemas. Derrickson, anda berhasil!


Mungkin untuk beberapa expert dibidang film horror apa yang Sinister tawarkan akan terkesan standar, saya juga sedikit merasakan itu, namun anehnya synopsis dari cerita yang disusun C. Robert Cargill dan Derrickson ini sangat menarik bagi saya. Ya, ini adalah film pertama dari Derrickson yang saya tonton, sehingga saya tidak kenal “cara” yang ia pakai. Begitupula dengan status film ini yang bukan franchise, semakin menambah misteri yang dimiliki film ini, meskipun ada Jason Blum dibelakangnya.

Yang paling menarik dari film ini adalah bagaimana Derrickson mengajak saya untuk ikut merasakan tekanan dari Ellison lewat video-video yang ia putar satu per satu. Ya, ini yang paling menarik, karena dengan video tadi Derrickson menghadirkan clue-clue baru yang disuntikkan secara perlahan, semakin menambah beban dari tokoh utama, namun juga menjadikan saya terus bertanya-tanya sembari mencoba mengaitkan hubungan antar clue tadi. Hmm, saya terbawa suasana, merasa seolah ikut berjalan bersama Ellison mengitari rumah misterius itu dengan dikelilingi suasana tenang yang mencekam. Dan, ketika sosok misterius itu hadir, Derrickson berhasil membuat saya terkejut, dan juga merinding. Momen kejut yang diberikan memang klasik, namun tidak murahan.

Faktor utama keberhasilan sebuah film horror bagi saya apakah film tersebut berhasil menakut-nakuti saya sepanjang ia hadir dihadapan saya. Sinister berhasil melakukan itu. Sangat banyak momen dimana film ini mampu membuat deru nafas saya sedikit bergerak cepat ketika saya menganggap sosok misterius itu akan hadir. Ya, sangat banyak, dan anda akan terus waspada sepanjang film. Pusat film ini jelas adalah Ethan Hawke, dan beruntungnya ia mendapatkan karakter yang memang telah menjadi salah satu kelebihannya, tenang dan berkarisma, seperti menyaksikan Tom di film The Woman in the Fifth. Ethan berhasil menjadikan Ellison sebagai seorang penulis yang dihormati, namun juga seorang ayah dan suami yang memiliki ambisi sangat besar.


Overall, Sinister adalah film horror yang memuaskan. Anda tidak akan mendapatkan sesuatu yang baru dan special dari film ini, karena apa yang ia miliki dapat anda temukan di film horror lainnya. Cerita yang mudah ditebak, tidak menghilangkan daya tarik film ini berkat kinerja efektif yang dihadirkan Scott Derrickson. Atmosfir horror sangat besar, disertai momen-momen menakutkan yang sangat tricky. Sinister adalah film horror yang akan membuat anda terus cemas.

Review Film The Boy 2016

 "Be good to him and he will be good to you."

Chucky, Billy the Puppet, Annabelle, menggunakan boneka sebagai senjata baik itu yang bersifat pendamping hingga sebagai senjata utama untuk mencoba meneror penontonnya merupakan sesuatu yang selalu menarik dari sebuah film horror. Tapi kembali lagi ke dasar utama, mereka sebuah boneka sehingga perlakuan serta cara membentuk yang harus diberikan kepada boneka-boneka itu harus benar-benar tepat terutama pada menciptakan impresi menyeramkan dan menakutkan yang mereka miliki. The Boy mencoba menggunakan boneka sebagai senjata utamanya, namanya Brahams (jangan di pisah), tapi ternyata tidak meneror melainkan menjadi boneka bodor.

Seorang nanny bernama Greta (Lauren Cohan) memperoleh pekerjaan untuk mengasuh anak dari keluarga British Heelshire di sebuah rumah terpencil di pedesaan Inggris. Greta diberitahu bahwa ia akan mengasuh seorang anak bernama Brahams, namun ketika ia tiba tempat kerja barunya tersebut Greta menemukan sebuah fakta yang mengejutkan: Brahams ternyata merupakan sebuah boneka. Mr. Heelshire (Jim Norton) dan Mrs. Heelshire (Diana Hardcastle), “orangtua” Brahams, menginginkan agar Brahams tetap menjalani rutinitas sehari-hari ketika mereka berlibur. Pada awalnya Greta mengabaikan Brahams namun kemudian hal-hal aneh mulai menghampiri Greta.



Apakah kamu tersenyum ketika membaca sinopsis di atas tadi? Ya, itu adalah premis paling standard, paling klasik, dan paling klise yang bisa diberikan oleh sebuah film dengan horror sebagai jualan utamanya. Tapi bukan berarti menggunakan kembali hal-hal klasik tadi merupakan sesuatu yang salah tapi dengan syarat mutlak, jangan perlakukan mereka dengan cara yang salah. Hal itu yang justru dilakukan oleh William Brent Bell di sini, sebenarnya memiliki materi yang tidak jelek bahkan elemen penunjang lain seperti cast juga tidak tampil buruk, namun ketimbang membuat penontonnya perlahan-lahan mulai terjebak dalam rasa takut dan mulai merasa waspada yang The Boy lakukan malah membuat penonton pelan-pelan merasa frustasi.



Di bagian awal saja The Boy sebenarnya sudah kurang oke, menghabiskan terlalu banyak waktu mencoba untuk membuat kamu menilai dan merasakan bahwa Brahams adalah sosok yang menakutkan. Dalam hal misteri memang terbentuk dengan baik tapi dari sisi karakter tidak, Brahams seharusnya "dilepas" sehingga cerita bisa maju, bukan justru menahan cerita dan terus berkerja keras untuk meyakinkan penonton bahwa ada yang salah dari Brahams. Pada akhirnya “feel” dari Brahams yang notabene menjadi senjata utama di sini justru terasa kasar, penonton seperti dipaksa untuk percaya bahwa Brahams merupakan sosok yang menyeramkan. Itu kesalahan yang krusial, Brahams yang seharusnya menjadi sumber rasa takut justru tampak seperti boneka yang digunakan sebagai boneka untuk menjebak penontonnya.



Apakah sukses? Ada beberapa bagian yang sulit memang untuk dikatakan buruk, tapi mayoritas serangan dari The Boy untuk menakut-nakuti penonton terasa lemah dan murahan. Mondar-mandir di cerita tidak masalah, baik malah, tapi ia tidak punya urgensi yang oke, kamu dibuat menunggu dan menunggu dan semakin menjengkelkan karena selain misteri yang terasa biasa-biasa saja konsekuensi dari masalah yang dihadapi oleh Greta juga tidak berhasil untuk membuat penonton merasa itu penting. Greta yang sisi rentannya kurang terbentuk dengan baik oleh Lauren Cohan justru tampak seperti wanita iseng yang konyol ketimbang seorang nanny yang nyawanya sedang terancam. Seandainya fokus digeser ke psikologis Greta mungkin The Boy akan lebih baik karena harus diakui goofiness dan keseraman yang dihasilkan oleh setting tidak buruk.



Berbagai kewajiban pada tugas yang dimiliki oleh Greta sebenarnya bisa digunakan untuk membuat agar arena di mana Greta dan Brahams berinteraksi secara intens dapat tersebar merata, sehingga rasa khawatir penonton dapat terus terjaga bersama rasa curiga bukannya perlahan mati dan berubah jadi rasa frustasi. Apakah Brahams benar-benar hidup? Apakah orang tua Brahams adalah orang gila? Pertanyaan tadi sebenarnya menarik tapi karena William Brent Bell terlalu sibuk merakit misteri dan mereka tidak pernah tumbuh menjadi rasa penasaran yang bisa mempertebal situasi menegangkan The Boy justru terus konsisten datar, dan ketika ending sialan itu hadir, boom, rasa kesal yang tertinggal cukup besar. Segmented.

Review Film The Cabin in The Wood

Film dengan tema horror, pada umumnya memiliki ciri khas yang tidak begitu jauh berbeda satu dengan lainnya, baik dari segi ide utama, jalan cerita, setting, hingga pada cara mereka diakhiri. Lewat The Cabin in The Wood, Drew Goddard dan Joss Whedon mencoba menyajikan sebuah cerita yang mengupas bagaimana film horror itu dibuat, dengan disertai kritikan tajam, dan sedikit permainan yang menyenangkan.

Lima pemuda-pemudi dengan karakteristik yang berbeda, Curt (Chris Hemsworth), Dana (Kristen Connolly), Jules (Anna Hutchison), Marty (Fran Kranz), dan Holden (Jesse Williams), memutuskan mengisi liburan mereka dengan menyewa sebuah kabin ditengah hutan, dan terjebak di proyek rekayasa yang dibangun Sitterson (Richard Jenkins) dan Hadley (Bradley Whitford). Terkesan standard memang, dan dengan mudah anda dapat menebak hal apa yang akan dialami kelima anak muda tersebut. Goddard dan Whedon berhasil menciptakan pembukaan, yang bagi saya menciptakan impresi awal yang sangat kuat. Bahkan saya sempat terkejut ketika perbincangan santai antara Sitterson dan Hadley tengah berlangsung, secara tiba-tiba muncul tulisan besar berwarna merah bertuliskan “The Cabin in the Wood”. Efektif!!!


Impresi awal dari segi cerita, dikontrol dengan baik oleh Goddard dan Whedon. Anda akan diajak untuk mengikuti proses penelusuran kelima pemuda-pemudi ini, melalui permainan nakal mereka yang berujung bencana. Misteri disajikan dari intensitas paling kecil, perlahan mulai bergerak naik seiring dengan tingkat ketegangan yang diberikan. Namun kunci dari film ini yang mungkin jarang anda temui dari film bertemakan horror saat ini adalah bagaimana mereka menjaga misteri yang mereka ciptakan. Kekonyolan khas anak muda jaman sekarang, kemudian disuntikkan teknologi canggih, dan kembali proses bangkitnya hantu yang sudah familiar, berhasil membuat anda untuk tetap fokus sembari berpikir apa sebenarnya maksud dan tujuan dari cerita yang mereka sampaikan. Ini ditambah dengan rasa bingung pada kemanakah cerita ini akan berakhir, karena proses eliminasi yang Goddard dan Whedon berikan kepada tokoh utama.

Humor-humor cerdas yang disuntikkan, akan sedikit mengecoh anda pada awal film, dan menganggap “oh, ini hanya permainan”. Namun, layaknya kelima tokoh utama yang telah berhasil dikurung dalam “ruang bermain” bagi Sitterson dan Hadley, anda juga akan merasakan hal yang sama. Celakanya, plot utama dari cerita ini berhasil Goddard dan Whedon tutup dengan rapat, baik, dan cermat. Ini menjadikan sajian ketegangan yang sebenarnya tidak begitu berbeda dengan apa yang film horror berikan pada umumnya, terasa berbeda karena anda masih merasa gelap dengan cerita yang tidak mengalami gebrakan yang besar, namun bergerak perlahan dari tingkat rendah, cukup, hingga yang tertinggi.

Proses eliminasi yang Goddard dan Whedon kemas selama satu jam, memberikan kesan pertama bahwa proses tersebut masih akan berlanjut. Dan, Baam, Goddard dan Whedon menghadirkan twist, yang bagi saya berhasil memberikan gebrakan cerita yang sedikit lebih besar dibandingkan satu jam pertama. Penempatan yang cerdik, berbuah hasil yang sangat cemerlang. Cerita yang telah berjalan dengan indahnya dijalur utama, dibelokkan secara gamblang, yang berhasil menjadikan saya tersenyum bahwa dugaan saya cerita akan terkuak ternyata salah besar.


Overall, The Cabin in the Wood menghadirkan tontonan yang sangat memuaskan. Sebuah film yang telah dinantikan begitu lama, sukses memberikan jawaban yang memenuhi ekspektasi awal saya. Saya merasa beruntung dengan keputusan saya menjauh dari segala review yang telah muncul. Saya bukanlah seorang penggemar horror kelas fanatik. Mungkin hal itulah yang menjadikan apa yang disajikan film ini memberikan kesan yang sangat mendalam. Lewat naskah yang mayoritas bekerja dengan baik, Goddard dan Whedon berhasil mengajak anda ikut bermain bersama lima tokoh utama yang berhasil diperankan dengan baik oleh kelima cast. Dengan plot utama yang terus dijaga dengan baik dari awal hingga akhir, anda akan terus berpikir dan mungkin saja bingung dengan maksud dari cerita yang anda saksikan, sembari terus dijejalkan ketegangan-ketegangan di bagian tengah film, yang bagi saya bukanlah sesuatu yang baru untuk genre horror. Semua clue yang Goddard dan Whedon berikan sejak awal, berfungsi dengan baik. Keindahannya adalah, Goddard dan Whedon berhasil menciptakan sebuah batas, yang menjadikan luas cakupan cerita menjadi sempit, kemudian menyuntikkan misteri dengan cara perlahan, sehingga ancaman yang dihadapi kelima tokoh menjadi menumpuk, dan disaat yang tepat menghadirkan twist yang akan membuat anda mengatakan “wow”.

Misteri Peradaban Machu Picchu Yang Hilang

machu picchu
Pada tahun 1400an, kerajaan Inca adalah yang terbesar di dunia, membentang 2.500 mil ke utara ke selatan dan mendukung populasi lebih dari sepuluh juta orang. Kuil, jalan yang luas, batu bata yang rumit, dan harta karun emas dan perak yang terkait dengan tanggal Inca dari sekitar 1200 sampai 1400-an. Kota Cuzco menjadi pusat yang kuat sebuah kerajaan yang terdiri lebih dari 100 negara kecil. Jalan dibangun untuk menyilang seluruh kekaisaran, berjalan melalui lembah dan di sepanjang sisi pegunungan. Suku Inca tidak pernah mengembangkan roda, namun jalan tersebut menyediakan sarana untuk memindahkan sejumlah besar batu dan barang yang digunakan untuk membangun dan mempertahankan kota-kota besar. Pelari terlatih digunakan untuk mengkomunikasikan pesan ke seluruh kekaisaran. Inca mengolah jagung dan kentang, menjinakkan llama sebagai binatang beban, membuat perahu kayu balsa untuk berjalan di sungai dan sungai, dan membangun jembatan gantung tali.

Kekaisaran ini diperluas oleh tiga kaisar, Pachacuti Inca Yupanqui dan keturunannya Topa Inca Yapanqui yang memerintah pada tahun 1438-1471 masehi dan Huayna Capac yang memerintah antara tahun 1493-1525. Kematian mendadak pada tahun 1525 datang sebelum dia menamai penerusnya, dan bangsa ini menjadi terbelah, situasi menjadi memanas saat penjajah Spanyol Francisco Pizarro (1475-1541) dan tentaranya sekitar 400 orang tiba pada tahun 1532. Terpikat dengan jumlah besar emas yang mereka temukan di kota-kota Inca, para penjajah menculik seorang pemimpin Inca dan menahannya untuk mendapatkan uang tebusan. Uang tebusannya, yang diperkirakan sekitar 700 milyar emas dan perak, telah dibayarkan, namun pemimpinnya tetap dieksekusi. Penyakit seperti cacar, yang sebelumnya tidak diketahui di Dunia Baru, mulai menyebar sejak tahun 1520-an.

Kekacauan dan penyakit tersebut, diperkirakan telah membunuh dua pertiga populasi Inca, dan bala bantuan militer dari Spanyol setelah Pizarro memamerkan harta karun yang dia temukan, membiarkan orang-orang Spanyol untuk menaklukkan kekaisaran Inca, secara sistematis menyapu dan menjarah semua barang yang berharga. Pusat incan Mereka melewatkan satu tempat, yang menghilang hingga ditemukan tahun 1912. Situs megah disebut Machu Picchu, sebuah kota di awan yang terletak di antara dua gunung berketinggian 8.000 kaki, Huayana Picchu (gunung muda) dan Machu Picchu (gunung kuno), dan menghadap ke sungai dan lembah suci yang disebut Urubamba.

Pada tahun 1911, Hiram Bingham (1875-1956), seorang sejarawan dari Universitas Yale yang sedang melakukan penelitian di Peru, diberitahu oleh seorang petani setempat, Melchior Artega, tentang adanya reruntuhan kuno yang berada di puncak pegunungan. Bingham mengikuti orang itu dan menemukan lokasi Machu Picchu. Dia mempublikasikan temuannya pada tahun 1912, dan pada bulan April 1913, majalah National Geographic membahas seluruh masalah situs ini. Meskipun banyak misteri tentang Machu Picchu, apa yang telah ditemukan tentang situs ini sejak tahun 1911 telah membuat beberapa orang menyebutnya sebagai keajaiban dunia kedelapan. Machu Picchu menampilkan kuil dan candi religius, sistem pemandian dan air, alun-alun, air mancur , dan pekerjaan batu yang rumit. Batu-batu dipasang sangat rapat di bangunan sehingga mereka tahan hampir lima ratus tahun pelapukan dan pertumbuhan tumbuhan yang subur.

Machu Picchu yang terletak di jalur sempit dan panjang antara pegunungan dan di atas sebuah lembah, memiliki serangkaian lapangan terbuka, dan terbagi menjadi tiga bagian - pertanian, perkotaan, dan religius. Bagian pertanian terdiri dari serangkaian teras yang berbatasan dengan saluran irigasi. Tanaman dibudidayakan pada tingkat di atas saluran untuk menghindari erosi. Areal pertanian dihiasi dengan bangunan-bangunan kecil yang diyakini merupakan tempat berjemur. Daerah perkotaan berada di bagian punggung bukit yang menurun curam ke lembah. Tangga 67 langkah naik dari lembah ke sektor perkotaan terbesar. Sebagian besar struktur memiliki satu ruangan dengan dinding kokoh dari batu yang dipasang dengan rumit. Struktur terbaik diyakini diperuntukan untuk guru berpangkat tinggi. Banyak dinding memiliki relung seukuran manusia dewasa yang dipahat ke dalamnya. Sebuah alun-alun dengan batu besar di tengah memisahkan daerah perkotaan dan religius.

Di antara struktur lainya terdapat pusat keagamaan yang disebut Kuil Intihuantana, sebuah kuil yang diukir dari granit. Kuil ini dianggap sebagai tempat suci bagi matahari dan batu, yang keduanya disembah oleh suku Inca, dan juga diyakini telah berfungsi sebagai observatorium astronomi. Beberapa bangunan di pusat keagamaan bertingkat tiga, termasuk yang disebut Kuil Pusat Besar dan Kuil Tiga Jendela. Bangunan yang terakhir diyakini terkait dengan legenda Inca bahwa nenek moyang asli mereka muncul dari sebuah gua yang memiliki tiga jendela. Juga terletak di pusat keagamaan adalah Kuil Matahari, sebuah menara melingkar yang diyakini memiliki orientasi astronomi. Pandangan Machu Picchu yang paling diterima menggambarkannya sebagai tempat ibadah yang melayani imam besar dan "perawan matahari".

Lebih dari 80 persen kuburan yang ditemukan di situs tersebut berisi tulang wanita. Diperkirakan untuk orang yang dianggap sebagai "wanita terpilih." Machu Picchu diperkirakan telah dikunjungi oleh anggota dari keluarga kerajaan Incan yang diangkut di sepanjang jalan khusus yang hanya bisa digunakan dengan izin mereka. Karena jalan jarang digunakan, sedikit Inca tahu tentang mereka. Para penjajah tidak pernah menemukan jalannya, juga tidak menemukan Inca yang bisa membawa mereka ke lokasi. Alasan mengapa Machu Picchu ditinggalkan tetap menjadi rahasia yang hilang dari waktu ke waktu.