Tampilkan postingan dengan label Horor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Horor. Tampilkan semua postingan

Sinopsis Film Peppermint (2018) - Dendam Seorang Wanita Kepada Pembunuh Keluarganya

Peppermint adalah film aksi drama thriller asal Amerika yang akan rilis mulai 7 September 2018. Film arahan Pierre Morel ini adalah kisah balas dendam yang berpusat pada seorang ibu muda yang menemukan dirinya tanpa kehilangan apa pun, dan sekarang akan mengambil dari saingannya kehidupan yang mereka curi darinya. Film ini diprediksi akan menjadi box office karena Pierre Morel sudah banyak membuat film aksi yang laris di pasaran seperti Taken 2008 dan From Paris with Love yang beredar 2010.

Tokoh ibu muda itu diperankan oleh Jennifer Garner. Ia tidak terlalu asing bermain film action karena pernah bermain sebagai Electra Natchios di Daredevil walau ia juga bermain film drama di Love Simon. Selain Jennifer Garner, movie barat ini juga dibintangi oleh John Ortiz, John Gallagher Jr., Method Man, Tyson Ritter, Juan Pablo Raba, Richard Cabral, Annie Ilonzeh, Randy Gonzalez, Erin Carufel, Chris Johnson, dan lainnya.

Film Peppermint dibuat oleh rumah produksi Lakeshore Entertainment dan akan diedarkan oleh STX Entertainment untuk negara Amerika, sedangkan untuk luar Amerika distribusi filmnya diurus oleh GEM Entertainment mulai 7 September 2018.

Sinopsis Film Peppermint 2018:

Di Peppermint , Garner berperan sebagai Riley North, ibu dan janda yang berduka yang menyaksikan suami dan anaknya ditembak mati oleh anggota geng di karnaval. Setelah para pembunuh berhasil menghindari hukuman penjara berkat hakim yang korup, Riley berjanji untuk membalas dendam dengan mengubah dirinya menjadi seorang hakim yang mematikan. Lima tahun kemudian, tubuh anggota geng mulai muncul. apakah Riley yang ada di belakangnya? Baca juga sinopsis film 59 Seconds yang juga bertema serupa.

Info Film Peppermint 2018:
Sutradara: Pierre Morel
Pemain: Jennifer Garner, John Ortiz, John Gallagher Jr, Tyson Ritter, Method Man
Penulis: Chad St. John
Produser: Tom Rosenberg, Gary Lucchesi
Rilis: 7 September 2018
Genre: Aksi, Kriminal, Thriller
Studio: STX Entertainment

Itulah sinopsis film Peppermint 2018 beserta informasi lainnya. Semoga saja bermanfaat untuk anda yang sedang mencari jalan cerita dari film aksi tersebut. Jangan lupa datang lagi ya ke blog Sinopsis film Terbaru untuk mendapat update film terbaru 2018.
Sumber

Sinopsis Film Sakral (2018) - Rahasia Besar yang Tersembunyi

Sinopsis Sakral - Melina (Olla Ramlan) masih terlarut dalam kesedihan, saat kehilangan salah satu anak kembarnya saat lahir. Anaknya yang selamat, Flora (Makayla Rose) tumbuh menjadi anak pemurung dan misterius.

Seiring Flora menginjak lima tahun, keadaan keluarga Melina diperparah oleh gangguan gaib dan kematian orang-orang terdekat Melina. Bahkan kini Melina sendiri yang mendapat ancaman kematian.

Daniel (Teuku Zacky) suami Melina, tidak tinggal diam. Ia mencari tahu apa yang terjadi dengan keluarganya, yang ternyata berhubungan dengan bayi mereka yang telah meninggal. Semakin Daniel menguak tabir misteri, semakin besar juga bahaya yang mengintai nyawa keluarganya.

Apakah rahasia besar yang tersembunyi di masa lalu? Mampukah mereka selamat dari ancaman itu?

Pemain Sakral

Jenis Film : Horror
Produser : Dheeraj Kalwani
Sutradara : Tema Patrosza
Penulis : Baskoro Adi, Tema Patrosza
Produksi : MD Pictures, Dee Company
Casts : Olla Ramlan, Teuku Zacky, Erika Carlina, Raquel Larkin, Makayla Rose, Ninok Wiryono
Tayang : 20 September 2018
Sumber

Sinopsis Film Kafir : Bersekutu Dengan Setan - Akting Apik Sujiwo Tejo

Sinopsis Film – Kafir atau Kafir Bersekutu dengan Setan merupakan judul film horor Indonesia yang diarahkan sutradara Azhar Kinoi Lubis. Film Kafir 2018 digarap oleh rumah produksi Starvision Plus. Sedangkan produser dari film dengan tagline Bersekutu Dengan Setan ini adalah Fiaz Servia dan Chand Parwez Servia. Naskah skenario film horor terbaru Indonesia ini ditulis oleh Rafki Hidayat dan Upi Avianto.

Inti cerita ‘Kafir Bersekutu dengan Setan’ ini yaitu tentang kisah dalam sebuah keluarga yang hidup harmonis, damai dan rukun pada mulanya. Namun selang beberapa waktu munculkah kejadian aneh dan tak terduga yang mengusik keluarga tersebut hingga menjadi tidak tentram.

Beberapa bintang ternama yang akan meramaikan film Kafir ini diantaranya Sujiwo Tejo, Putri Ayudya, Nadya Arina, Indah Permatasari, Nova Eliza, Rangga Azof dan Teddy Syach. Kafir The Movie ini dirilis dan tayang perdana di bioskop Indonesia pada tanggal 5 Juli 2018.

Sinopsis :

Film Kafir menceritakan tentang kisah kehidupan sebuah keluarga yang damai, tentram dan harmonis. Namun tiba-tiba mereka mengalami hal yang tak terduga. Ketika mereka sedang asyik makan malam, tiba-tiba sang Bapak, Herman (diperankan oleh Teddy Syach) merasa kesakitan hingga memuntahkan beling dari mulutnya. Kejadian tersebut akhirnya membuat nyawa sang Bapak melayang.

Sepeninggal sang Bapak, kedamaian yang dirasakan oleh keluarga tersebut mulai terusik. Sang ibu, Sri (diperankan oleh Putri Ayunda) bahkan mendapatkan teror-teror gaib yang sangat mengganggu. Hal ini membuat ibu bersikap aneh dan terkadang nampak ketakutan. Bersamaan dengan itu, dukun dari kampung mereka yang bernama Jarwo (diperankan oleh Sujiwo Tejo) tiba-tiba saja meninggal secara misterius dan rumahnya pun hangus terbakar.

Dina (diperankan oleh Nadya Arina) dan Andi (diperankan oleh Rangga Azof) yang merasa tidak rela jika kasus yang menimpa bapak mereka harus terulang dan akan menimpa sang ibu. Akhirnya mereka pun berusaha untuk mencari penyebab kematian sang bapak demi menyelamatkan nyawa sang ibu tercinta.

Akankan mereka menemukan titik terang dari peristiwa aneh yang terjadi pada keluarga mereka tersebut. Bagaimana cara mereka melindungi sang ibu agar tidak mengalami nasib naas seperti sang bapak? Saksikan dan totom “Kafir Bersekutu Dengan Setan” selengkapnya di bioskop terdekat mulai 5 Juli 2018 mendatang.
Sumber

Sinopsis Film The Nun, Terungkap Kematian Valak Hantu The Conjuring

Film horor The Nun besutan sutradara Corin Hardy tayang di bioskop-bioskop Indonesia mulai hari ini, Rabu 5 September 2018.

The Nun adalah prekuel yang menghadirkan cerita-cerita sebelum dimulainya kisah dalam semesta The Conjuring Series.

Cerita The Nun berkisar pada upaya pengungkapan misteri kematian the Demon Nun Valak. Pengungkapan ini juga yang menyasar pada skandal berikutnya: rahasia-rahasia biara yang selama ini disembunyikan.

Bermula dari kematian seorang biarawati di Rumania yang mendadak membuat petinggi Vatikan geger. Nyawa seorang biarawati melayang dengan cara yang tidak wajar dan misterius.

Pihak Vatikan selanjutnya merespon permasalahan ini dengan mengutus seseorang untuk menyelidikinya. Adalah pastor bernama Father Burke (Demián Bichir) dari Eropa Selatan yang dikirim untuk menyelidiki kematian biarawati tersebut.

Satu per satu berbagai pecahan misteri kematian sang biarawati terungkap yang membuat Father Burke kewalahan, baik secara psikis, mental, maupun jiwanya.

Kejadian apa yang sebenarnya terjadi di Rumania?

Dilansir dari Fandago, James Wan sutradara The Conjuring menjelaskan kenapa The Nun berlatar pada tahun 1952 di Rumania.

“The Nun berlatar tahun 1952, lebih awal 25 tahun dari plot The Conjuring 2, yang merupakan tempat pertama kami bertemu Valak, Demon Nun. Dan itu tujuh tahun setelah peristiwa-peristiwa utama dalam Annabelle: Creation, yang merupakan tempat terakhir kita melihat Valak,” jelas James Wan dalam wawancaranya.


Kemudian, apa hubungan antara kejadian ini dengan sosok Sister Irene (Taissa Farmiga) yang tampil cukup mengesankan dalam trailer The Nun?

Dalam trailer pertama The Nun, terlihat gambar seorang biarawati muncul di dekat Suster Irene (Taissa Farmiga)

“Saya melihat seorang biarawati,” kata suster Irene dalam trailer pertama The Nun.

Dalam trailer tersebut terdapat adegan yang menunjukkan Suster Irene berjalan di terowongan gelap yang diterangi oleh cahaya lilin saat hantu seorang biarawati mengikutinya. Begitu Suster Irene menyadari bahwa dia sedang diikuti, seorang biarawati lain berlari dan menyerangnya.

"Berdoalah untuk Pengampunan," kata-kata itu mengakhiri trailer The Nun.

James Wan selaku produser The Nun menggandeng sutradara Corin Hardy yang sebelumnya telah menyutradarai film horor 2015 The Hallow.

Aktris karakter Bonnie Aarons mengulangi perannya sebagai Valak, sementara Taissa Farmiga mengikuti jejak saudaranya Vera dengan bergabung dengan franchise sebagai Suster Irene, biarawati dari Vatikan.

Aktor nominasi Oscar Demián Bichir yang terakhir terlihat di Alien: Covenant, di The Nun berperan sebagai imam. Film ini juga menampilkan Jonas Bloquet (Elle) sebagai penduduk setempat, ditambah Charlotte Hope (Game of Thrones) dan Ingrid Bisu (Toni Erdmann) sebagai biarawati dari ordo yang sedang diselidiki.

Gary Dauberman yang menulis film Annabelle dalam waralaba Conjuring turut menulis skenario di The Nun.

Bagaimana film The Nun cocok dengan semesta sinematik The Conjuring?

“Di sinilah semuanya dimulai,” jawab James Wan.

Dalam cakupan internasional, film The Conjuring 2 yang dilatarbelakangi pengalaman pasangan cenayang Ed dan Lorraine Warren ini merajai box office di mana-mana. Di Amerika Latin yang notabene pengaruh katoliknya kuat, Conjuring 2 tak bisa tertahan. Hal sama terjadi di Australia dan beberapa negara Asia.

Sedangkan di Amerika Serikat, The Conjuring 2 berhasil meraup pendapatan hingga $40,4 juta pada pekan pertama. Capaian ini tak beda jauh dengan sekuel pertama The Conjuring yang memeroleh $41,8 juta saat dirilis 2013 lalu.

Subgenre horor-supranatural memang sedang naik daun dalam 20 tahun terakhir. Subgenre ini jadi andalan Hollywood menakuti orang, ketimbang sub-genre lain seperti horor-slasher atau horor-torture.
Sumber

Sinopsis Film Alas Pati : Keinginan Nikita Menjadi Youtubers Berujung Maut

‘Alas Pati: Hutan Mati’ merupakan film horor garapan rumah produksi MD Pictures, yang disutradarai oleh Jose Poernomo, sekaligus menggarap skenarionya bersama dengan Aviv Elham.

Jose Poernomo memang dikenal sebagai salah satu sutradara spesialis film-film horor. Film debut Jose Poernomo adalah Jelangkung (2001), yang disutradarai bersama Rizal Mantovani. Film lainnya adalah Pulau Hantu, Pulau Hantu 2, Pulau Hantu 3, Rumah Kentang (2012), Tarot (2015) dan Jailangkung: Datang Gendong Pulang Bopong (2017).
Nikita Wiliiy dan teman-teman memasuki hutan angker dalam film ‘Alas pati: Hutan Mati’

Adapun pemeran utaman wanita dalam Alas Pati: Hutan Mati yakni artis cantik Nikita Willy yang sempat dikenal pula sebagai salah Satu Ratu Sinetron Indonesia, memulai debut film horornya dalam film Gasing Tengkorak (2017) yang juga arahan sutradara Jose Poernomo.

Untuk aktor prianya ada Jeff Smith yang film terbarunya juga bergenre horor berjudul SAJEN yang akan segera tayang di bioskop pada Mei 2018 ini.

Sinopsis Film Alas Pati: Hutan Mati

Film ‘Alas Pati: Hutan Mati’ bercerita tentang Raya (Nikita Willy) bersama empat sahabatnya Vega (Stefhanie Zamora), Jesi (Naomi Paulinda), Rendy (Roy Sukngkono), dan Dito (Jeff Smith) nekat pergi ke hutan angker yang dikenal dengan nama Alas Pati, sebuah kawasan hutan mati. Mereka ke hutan tersebut demi membuat video dokumentasi tentang pekuburan aneh yang berada di dalam hutan. Keinginan itu dilakukan demi meningkatkan viewers (penonton) channel youtube yang mereka miliki yang selama ini tidak banyak penggemarnya.
Nikita Willy berperan sebagai Raya dalam film ‘Alas Pati: Hutan mati’

Di dalam hutan, berbagai peristiwa aneh dan menyeramkan mulai terjadi. Mereka menemukan deretan mayat yang terbujur di atas rakitan bambu dan menurut kepercayaan, mayat tersebut arwahnya tidak diterima di dalam kubur dan menjadi arwah gentayangan. Kejadian lainnya, kecelakaan tragis menimpa Jessy yang membuat mereka ketakutan dan meninggalkan Jessy sendiri di tengah hutan.

Teror masih terus berlanjut. Raya dan kawan-kawannya terus terkena teror dari makhluk yang menyeramkan di manapun mereka berada.

Berhasilkah Raya dan teman-temannya lepas dari teror tersebut? Bagaimana dengan nasib Jessy yang sendirian berada di tengah hutan angker tersebut?

Detail Cast and Crew Film ALAS PATI: Hutan Mati

Jenis Film : Horor
Durasi : 96 menit
Negara Asal : Indonesia
Produser : Manoj Punjabi
Sutradara : Jose Poernomo
Penulis Naskah : Jose Poernomo, Aviv Elham
Produksi : MD Pictures
Pemain : Nikita Willy, Jeff Smith, Roy Sungkono, Stefhanie Zamora, Naomi Paulinda, Maura Inry Gabrielle.
Rilis : TBA Mei 2018

Review Film SAJEN (2018) : Ada Hantu Di Sekolahku

‘Sajen’ merupakan film horor Indonesia yang diproduksi oleh Starvision. Sesajen atau sajen adalah makanan persembahan kepada dewa atau arwah nenek moyang, biasanya diadakan pada upacara adat dikalangan penganut kepercayaan kuno di Indonesia.

Benda sesajen berbeda dengan benda untuk persembahan kurban atau tumbal, di mana sesajen hanya dibuat untuk kepentingan upacara adat skala kecil dengan tujuan yang berupa rutinitas adat dan memiliki ‘tujuan baik’. Intinya, sesajen diadakan untuk mencegah datangnya malapetaka.

Benda sesajen atau Sajen biasanya hanya berupa rangkaian bunga dan daun yang berbau wangi seperti melati, juga bisa disertai beberapa buah-buahan dan makanan jajanan pasar, kemudian diiringi dengan pembakaran kemenyan sebagai pengantar kepada arwah nenek moyang.

Film ‘Sajen’ ini disutradarai oleh Hanny R. Saputra dan skenarionya ditulis oleh Haqi Achmad. Ceritanya yang berlatar murid sebuah sekolah menengah, makanya pemain yang tampil merupakan bintang-bintang muda, di antaranya Amanda Manopo, Angga Yunanda, Steffi Zamora, Jeff Smith, Chantiq Schagerl, Rachel Amanda, Aliff Alli Khan.

Menyaksikan trailernya, film ini tidak ada sesuatu yang istimewa. Ceritanya pun biasa saja. Yang jadi daya tarik film ini hanyalah sederetan bintang muda yang tampil, dan artis-artis muda biasanya memiliki fanbase di medsos yang terbilang banyak.

Film ‘Sajen’ direncanakan akan dirilis di jaringan bioskop21 pada 3 Mei 2018. Bagi anda yang penasaran dengan akting Amanda Manopo bermain di film horor, catat tanggal main film tersebut.

Sinopsis Film Sajen

Film ‘Sajen’ bercerita misteri terbunuhnya Alanda (Amanda Manopo), siswi di SMA Pelita Bangsa. Adanya 3 sajen di SMA Pelita Bangsa adalah sebuah misteri. Banyak yang mengatakan sajen tersebut merupakan upaya sekolah menenangkan arwah Alanda, siswi yang bunuh diri karena menjadi korban bullying.

Alanda sebenarnya berupaya memutus rantai bullying di sekolah. Berbeda dengan murid lain yang pasrah saat Bianca (Steffi Zamora), Davi (Jeff Smith) dang eng popular berlaku seenaknya, Alanda berani melawan. Misi Alanda membuat dua sahabatnya yakni Riza (Angga Yunanda) dan Keyra (Chantiq Schagerl) cemas.

Di suatu malam, Alanda dijebak. Karena depresi, Alanda memutuskan bunuh diri. Kemarahan Alanda membuat arwahnya tidak tenang dan mendorongnya membalas dendam ke orang-orang yang telah menghancurkannya.

Detail Cast and Crew Film SAJEN (2018) 

Jenis Film : Drama, Horor
Durasi : 102 menit
Negara Asal : Indonesia
Produser : Chand Parwez Servia, Fiaz Servia
Sutradara : Hanny R. Saputra
Penulis Naskah : Haqi Achmad
Produksi : Starvision
Pemain : Amanda Manopo, Angga Yunanda, Stefhanie Zamora, Jeff Smith, Chantiq Schagerl, Rachel Amanda, Aliff Alli Khan

Review Film TRUTH OR DARE (2018) : Mainkan atau Mati

‘Truth or Dare’ merupakan film bergenre horor dan thriller yang berasal dari negara Amerika Serikat. Film ini disutradarai oleh Jason Blum, dan skenarionya ditulis oleh Jeff Wadlow.

Film Truth or Dare yang diproduksi oleh Blumhouse Productions dan didistribusikan oleh Universal Pictures, fokus ceritanya tentang Olivia dan teman-temannya memainkan permainan Truth or Dare, yang kemudian berubah menjadi sebuah malapetaka dan teror. Truth or Dare adalah sebuah permainan yang mengharuskan setiap pemain yang ditunjuk menjawab pertanyaan dengan jujur atau melakukan tantangan yang diberikan oleh lawan mainnya.

Film ini dibintangi di antaranya oleh Lucy Hale, Violett Beane, Tyler Posey, Nolan Gerard Funk, Landon Liboiron.

Sinopsis Film Truth or Dare

Film Truth or Dare bercerita tentang sekelompok mahasiswa, Olivia dan teman-temannya yang memainkan permainan ‘truth or dare’ atau yang biasa dikenal dengan permainan jujur atau berani, untuk bersenang-senang. Permainan berawal dengan sangat menyenangkan berjalan dengan mulus. Hingga kemudian sebuah kejadian diceritakan oleh salah satu pemain sebagai permintaan menjawab pertanyaan dari permainan ini.

Namun tanpa disangka permainan itu membawa teror dan kematian bagi para pemainnya. Permainan Truth or Dare ini kemudian menjadi mencekam ketika keanehan pertama muncul dan dialami oleh Olivia, dan dia juga mendapatkan berbagai teror menyeramkan.

Teror dari permainan ini juga dialami oleh teman-teman Olivia. Teror yang tidak wajar ini, diyakini berasal dari makhluk supranatural yang terus membayangi kehidupan mereka.

Segalanya berubah, permainan ini menjadi semakin menakutkan ketika mereka menyadari sebuah peraturan dimana para pemainnya harus menjawab dengan jujur dan harus menerima tantangan melakukan kegiatan yang diminta oleh makhluk astral tersebut.

Seseorang memulai untuk menghukum orang-orang yang berbohong atau menolak tantangan Permainan ini pun berubah menjadi teror yang mematikan. Satu persatu teman-teman Olivia ikut menjadi korban permainan Truth or Dare. Mereka harus menjawab dengan jujur atau menerima tantangan, dan jika tidak hukumannya adalah kematian. Olivia mulai sadar ada seseorang di balik keganjilan yang mereka dapatkan.

Dapatkah mereka selamat atau menghentikan ancaman teror itu?

Detail Cast and Crew Film TRUTH OR DARE

Jenis Film : Horor, Thriller
Durasi : 100 menit
Negara Asal :Amerika
Produser : Jason Blum
Sutradara : Jeff Wadlow
Penulis Naskah : Jillian Jacobs, Michael Reisz, Christopher Roach, Jeff Wadlow
Produksi : Blumhouse Productions, Universal Pictures
Pemain : Lucy Hale, Violett Beane, Tyler Posey, Nolan Gerard Funk, Brady Smith, Aurora Perrineau, Landon Liboiron, Sophia Taylor Ali

Review Film The Babadook (2014)

Mana diantara dua opsi berikut yang menurut anda akan memberikan sensasi menonton yang lebih mengasyikkan: secara konsisten terus disajikan berbagai materi horor dari gimmick klasik hingga jump scare, atau justru masuk kedalam petualangan dimana anda hanya di beri tahu bahwa ada sesuatu yang menyeramkan disana namun kemudian dilepas untuk bermain-main secara liar bersama imajinasi yang perlahan membentuk sendiri rasa takut anda? For me opsi kedua lebih mengasyikkan, dan film ini punya hal tersebut, The Babadook, a very good classic haunted house & psychological horror. Gripping. Riveting!

Pada hari dimana ia hendak melahirkan, wanita bernama Amelia (Essie Davis) justru harus kehilangan salah satu sosok yang paling ia cintai dalam hidupnya. Suaminya, Oskar (Ben Winspear), meninggal dunia akibat kecelakaan mobil tujuh tahun yang lalu, kisah yang juga menjadi favorit bagi anak mereka Samuel (Noah Wieseman) untuk diceritakan kepada orang lain. Celakanya beban Amelia tidak hanya harus berjuang keluar dari mimpi buruk tadi, menjadi ibu tunggal di usia muda, namun juga harus berhadapan dengan tingkah laku Sam yang bahkan telah dinilai mengerikan oleh orang-orang disekitar mereka.

Namun seperti ibu pada umumnya Amelia tidak merasa ada yang salah pada Sam, ia bahkan dengan sabar menunjukkan pada anaknya itu bahwa tidak ada sosok aneh di dalam lemari hingga dibawah tempat tidur seperti yang ia ucapkan, dan kemudian membacakan Sam buku cerita sebelum tidur. Tapi suatu hari siklus yang mereka lakukan secara teratur itu berubah dimana Sam diperbolehkan untuk memilih buku cerita yang ia inginkan. Buku yang dipilih itu berjudul "Mister Babadook", buku bersampul merah tanpa penerbit dan penulis yang berkisah tentang tuan Babadook, sosok supranatural yang membawa bahaya bagi mereka.


Pertanyaan di bagian awal tadi sesungguhnya telah menjadi clue yang sangat besar, bahwa The Babadook bukan merupakan sebuah horror yang menggunakan premis dari sinopsis yang ia punya agar membuka arena bermain untuk kemudian menyuapi penontonnya dengan materi horror sembari mengajak mereka mencari jawaban atas teka-teki yang ia lemparkan. Jennifer Kent menekan kuantitas hal tersebut pada kisah yang ia lebarkan dari film pendek miliknya yang berjudul Monster ini, menjaganya untuk tampil dalam kualitas yang tidak kalah baik, namun kemudian menyandingkan hal tadi bersama perputaran cerita yang berisikan kelelahan psikologis atau penderitaan mental yang menyenangkan.

The Babadook adalah film horror yang menyenangkan karena berhasil bercerita dengan rapi. Seperti yang disebutkan sebelumnya anda tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada karakter, dan tanpa mencoba untuk tampil rumit penonton akan dengan mudahnya terjebak kedalam cerita berkat pesona dari dua karakter yang mampu membentuk "something wrong" itu tampak menjanjikan. Tapi dari sana pula penonton kemungkinan akan terpecah karena pada dasarnya The Babadook mayoritas berisikan aksi menunggu dimana kita diajak untuk mengamati proses destruksi pada karakter dari positif menjadi negatif, dan dengan visi yang kuat hal itu berhasil Jennifer Kent tampilkan dengan padat.


Apa maksudnya? Mengapa begitu rumit hanya untuk ditakut-takuti? Sebenarnya tidak, jika anda sejak awal telah klik dengan visi Jennifer Kent yang memilih tampil dengan visi sebuah tahapan, sebuah petualangan yang lebih mengedepankan permainan atmosfir atau suasana hati untuk kemudian membangun masalah dengan perlahan diselimuti keheningan tanpa harus kehilangan kontrol pada sensasi. Mungkin akan terasa asing, tapi pilihan berani itu menghasilkan kemasan yang terasa kuat, dari "something wrong" masuk kedalam permainan emosional ditemani rasa sedih, benci, marah, stress, dan takut, kemudian terjebak lebih dalam bersama terror serta berbagai guncangan yang dikemas dengan cekatan.

Hasil dari skenario tadi adalah sebuah tahap akhir yang "menyeramkan" dan membayar lunas kesabaran para penontonnya. Derit pintu, langkah perlahan, menanti di kegelapan dalam kondisi waspada, hal-hal klasik tadi bahkan kerap di mix dengan momen-momen lucu yang mampu mengundang tawa, tapi alasan mengapa The Babadook merupakan real deal di genre horror tahun 2014 sejauh ini adalah karena ia mampu menyandingkan dengan sangat baik narasi bersama dengan sensasi. Apa yang anda inginkan dari sebuah film horror The Babadook punya, dan meskipun kuantitasnya terasa kurang tidak akan terasa mengganggu berkat narasi yang dipenuhi interaksi dan emosi yang juga tampil menarik.


Lantas apa minus yang mengganggu dari The Babadook? Imo tidak ada, tidak begitu menyeramkan memang tapi sensasi horror yang ia berikan sangat menyenangkan. Nah, hal terakhir itu yang mungkin akan sedikit berbeda, tidak ada boom-boom-boom penuh kejutan oktan tinggi disini, The Babadook lebih seperti sebuah orchestra yang membuat penontonnya terombang-ambing dan kemudian terkejut ketika nada sedikit tinggi hadir sesaat. Semua dijaga untuk tampil ketat, dari fokus pada cerita, fokus pada emosi, hingga atmosfir, meskipun ada aksi menunggu tidak ada yang terasa layu, semua karena tersusun dalam sebuah skema yang di eksekusi dengan rapi, keseimbangan yang mampu membentuk teknik seperti close-up dapat memberikan rasa segar pada horror tradisional ini.

Dua pemeran utama juga punya andil sangat besar pada kesuksesan yang diraih The Babadook, terlebih mengingat penggunaan efek yang cukup minim disini. Noah Wieseman adalah bintang baru yang cemerlang, sangat suka pada cara ia melemparkan teror di awal dengan menggunakan mata, kesan ambigu pada misteri juga mayoritas terjaga dengan sangat baik berkat kemampuannya dalam menyeimbangkan penggunaan ruang bersama Essie Davis. Mungkin masih terlalu dini, tapi nama terakhir punya kans yang cukup kuat untuk menjadi aktris terbaik versi saya tahun ini, seperti menyaksikan Mia Farrow di Rosemary Baby, berawal dari rasa lelah kemudian kemunculan rasa sakit, marah, hingga sedih itu ditampilkan dengan sangat baik oleh Essie Davis namun tetap mudah dijangkau oleh penontonnya.


Overall, The Babadook adalah film yang memuaskan. Sederhana dan tradisional, tapi keputusan untuk tidak hanya sebatas menjual efek khas horor bersama visual suram, kemudian menyandingkan mereka dengan narasi yang lucu tanpa harus terasa konyol, menyentuh tanpa terasa terlalu mellow, hingga bermain-main liar dalam ketenangan tanpa terasa menjengkelkan, Jennifer Kent serta dua pemeran utama berhasil menghadirkan efektifitas pada sebuah dongeng psikologis dan supranatural yang: bijak dalam bercerita, lembut ketika berjalan, namun tetap pedas saat memberi "kejutan". Ba-ba-ba! Dook-dook-dook!

Review Film Sinister 2012

Sebuah ambisi yang besar akan memberikan anda tekanan yang besar pula. Hal tersebut akan semakin berat ketika anda memiliki masa lalu yang cukup cemerlang, namun kini berada dalam kondisi sebaliknya. Ellison Oswalt (Ethan Hawke), seorang novelis yang selalu mengangkat tema kejahatan nyata yang pernah terjadi sebagai bahan bukunya, bersama keluarganya pindah ke sebuah rumah yang memiliki cerita masa lalu kelam, yang pada akhirnya membawa sebuah bencana besar bagi keluarganya.

Dibuka dengan satu keluarga yang terdiri dari empat orang, mati perlahan dengan tergantung di pohon, anda akan langsung menyaksikan seorang gadis kecil bernama Ashley (Clare Foley), anak perempuan dari Ellison dan Tracy (Juliet Rylance), sedang asyik menggambar di dinding kamar barunya, dan menolak untuk membantu mengemasi barang kedalam rumah baru mereka. Ya, sebenarnya Ashley tidak ingin pindah, karena itu hanyalah tuntutan pekerjaan dari ayahnya.

Benar, rumah tersebut adalah objek terbaru Ellison untuk proyek terbarunya, dengan kasus utama hilangnya seorang anak bernama Stephanie. Singkat cerita, Ellison menemukan sebuah kotak di loteng rumah barunya, yang berisikan sebuah proyektor dengan beberapa cuplikan super 8 yang masing-masing memiliki label, dengan jarak tahun yang cukup besar. Ya, itu adalah cuplikan tentang proses pembunuhan sadis beberapa keluarga. Semua semakin menarik ketika Ellison menemukan sesosok setan disalah satu cuplikan tersebut, sedang menonton proses pembunuhan, tanpa terlibat didalamnya.


Pertama, sejak awal saya sudah disuguhkan satu tokoh yang berhasil membuat saya tertarik dengan permasalahan yang ia hadapi. Ellison, pria yang tidak santai dan memiliki sebuah aturan khusus untuk istri dan kedua anaknya, Ashley dan Trevor (Michael Hall D'Addario). Tidak boleh ada yang masuk kedalam ruang kerjanya, tidak satupun, dan itu memberikan impresi bahwa karakter satu ini benar-benar dalam tekanan yang sangat besar dengan buku barunya, namun anehnya anda akan menilai bahwa ia adalah pria yang kuat.

Scott Derrickson sukses mengikat saya sejak awal film bergulir dengan cuplikan pembunuhan yang singkat itu. Dia berhasil menciptakan sebuah kasus yang jelas dengan kadar daya tarik yang besar. Konflik utama memiliki tekanan yang besar, kemudian hadir konflik pendukung yang berhasil menambah beban dari konflik utama. Tekanan dari sang istri, masa depan keluarganya jika buku itu gagal sukses, dan anaknya Trevor yang terus mengalami mimpi buruk, semua bekerja dengan baik.

Memang, anda tidak akan menemukan sesuatu yang baru dalam cara film ini menyampaikan ceritanya. Ya, cara klasik, suasana gelap disertai score yang soft membentuk kondisi mencekam, kemudian disertai rasa cemas akan kehadiran sosok makhluk halus disekitar karakter utama dengan bunyi-bunyi aneh. Tapi, kali ini itu semua berhasil membuat saya takut. Dengan dibantu unsur mockumentary, film ini sukses membuat saya untuk terus menjaga agar saya tetap cemas. Derrickson, anda berhasil!


Mungkin untuk beberapa expert dibidang film horror apa yang Sinister tawarkan akan terkesan standar, saya juga sedikit merasakan itu, namun anehnya synopsis dari cerita yang disusun C. Robert Cargill dan Derrickson ini sangat menarik bagi saya. Ya, ini adalah film pertama dari Derrickson yang saya tonton, sehingga saya tidak kenal “cara” yang ia pakai. Begitupula dengan status film ini yang bukan franchise, semakin menambah misteri yang dimiliki film ini, meskipun ada Jason Blum dibelakangnya.

Yang paling menarik dari film ini adalah bagaimana Derrickson mengajak saya untuk ikut merasakan tekanan dari Ellison lewat video-video yang ia putar satu per satu. Ya, ini yang paling menarik, karena dengan video tadi Derrickson menghadirkan clue-clue baru yang disuntikkan secara perlahan, semakin menambah beban dari tokoh utama, namun juga menjadikan saya terus bertanya-tanya sembari mencoba mengaitkan hubungan antar clue tadi. Hmm, saya terbawa suasana, merasa seolah ikut berjalan bersama Ellison mengitari rumah misterius itu dengan dikelilingi suasana tenang yang mencekam. Dan, ketika sosok misterius itu hadir, Derrickson berhasil membuat saya terkejut, dan juga merinding. Momen kejut yang diberikan memang klasik, namun tidak murahan.

Faktor utama keberhasilan sebuah film horror bagi saya apakah film tersebut berhasil menakut-nakuti saya sepanjang ia hadir dihadapan saya. Sinister berhasil melakukan itu. Sangat banyak momen dimana film ini mampu membuat deru nafas saya sedikit bergerak cepat ketika saya menganggap sosok misterius itu akan hadir. Ya, sangat banyak, dan anda akan terus waspada sepanjang film. Pusat film ini jelas adalah Ethan Hawke, dan beruntungnya ia mendapatkan karakter yang memang telah menjadi salah satu kelebihannya, tenang dan berkarisma, seperti menyaksikan Tom di film The Woman in the Fifth. Ethan berhasil menjadikan Ellison sebagai seorang penulis yang dihormati, namun juga seorang ayah dan suami yang memiliki ambisi sangat besar.


Overall, Sinister adalah film horror yang memuaskan. Anda tidak akan mendapatkan sesuatu yang baru dan special dari film ini, karena apa yang ia miliki dapat anda temukan di film horror lainnya. Cerita yang mudah ditebak, tidak menghilangkan daya tarik film ini berkat kinerja efektif yang dihadirkan Scott Derrickson. Atmosfir horror sangat besar, disertai momen-momen menakutkan yang sangat tricky. Sinister adalah film horror yang akan membuat anda terus cemas.

Review Film The Boy 2016

 "Be good to him and he will be good to you."

Chucky, Billy the Puppet, Annabelle, menggunakan boneka sebagai senjata baik itu yang bersifat pendamping hingga sebagai senjata utama untuk mencoba meneror penontonnya merupakan sesuatu yang selalu menarik dari sebuah film horror. Tapi kembali lagi ke dasar utama, mereka sebuah boneka sehingga perlakuan serta cara membentuk yang harus diberikan kepada boneka-boneka itu harus benar-benar tepat terutama pada menciptakan impresi menyeramkan dan menakutkan yang mereka miliki. The Boy mencoba menggunakan boneka sebagai senjata utamanya, namanya Brahams (jangan di pisah), tapi ternyata tidak meneror melainkan menjadi boneka bodor.

Seorang nanny bernama Greta (Lauren Cohan) memperoleh pekerjaan untuk mengasuh anak dari keluarga British Heelshire di sebuah rumah terpencil di pedesaan Inggris. Greta diberitahu bahwa ia akan mengasuh seorang anak bernama Brahams, namun ketika ia tiba tempat kerja barunya tersebut Greta menemukan sebuah fakta yang mengejutkan: Brahams ternyata merupakan sebuah boneka. Mr. Heelshire (Jim Norton) dan Mrs. Heelshire (Diana Hardcastle), “orangtua” Brahams, menginginkan agar Brahams tetap menjalani rutinitas sehari-hari ketika mereka berlibur. Pada awalnya Greta mengabaikan Brahams namun kemudian hal-hal aneh mulai menghampiri Greta.



Apakah kamu tersenyum ketika membaca sinopsis di atas tadi? Ya, itu adalah premis paling standard, paling klasik, dan paling klise yang bisa diberikan oleh sebuah film dengan horror sebagai jualan utamanya. Tapi bukan berarti menggunakan kembali hal-hal klasik tadi merupakan sesuatu yang salah tapi dengan syarat mutlak, jangan perlakukan mereka dengan cara yang salah. Hal itu yang justru dilakukan oleh William Brent Bell di sini, sebenarnya memiliki materi yang tidak jelek bahkan elemen penunjang lain seperti cast juga tidak tampil buruk, namun ketimbang membuat penontonnya perlahan-lahan mulai terjebak dalam rasa takut dan mulai merasa waspada yang The Boy lakukan malah membuat penonton pelan-pelan merasa frustasi.



Di bagian awal saja The Boy sebenarnya sudah kurang oke, menghabiskan terlalu banyak waktu mencoba untuk membuat kamu menilai dan merasakan bahwa Brahams adalah sosok yang menakutkan. Dalam hal misteri memang terbentuk dengan baik tapi dari sisi karakter tidak, Brahams seharusnya "dilepas" sehingga cerita bisa maju, bukan justru menahan cerita dan terus berkerja keras untuk meyakinkan penonton bahwa ada yang salah dari Brahams. Pada akhirnya “feel” dari Brahams yang notabene menjadi senjata utama di sini justru terasa kasar, penonton seperti dipaksa untuk percaya bahwa Brahams merupakan sosok yang menyeramkan. Itu kesalahan yang krusial, Brahams yang seharusnya menjadi sumber rasa takut justru tampak seperti boneka yang digunakan sebagai boneka untuk menjebak penontonnya.



Apakah sukses? Ada beberapa bagian yang sulit memang untuk dikatakan buruk, tapi mayoritas serangan dari The Boy untuk menakut-nakuti penonton terasa lemah dan murahan. Mondar-mandir di cerita tidak masalah, baik malah, tapi ia tidak punya urgensi yang oke, kamu dibuat menunggu dan menunggu dan semakin menjengkelkan karena selain misteri yang terasa biasa-biasa saja konsekuensi dari masalah yang dihadapi oleh Greta juga tidak berhasil untuk membuat penonton merasa itu penting. Greta yang sisi rentannya kurang terbentuk dengan baik oleh Lauren Cohan justru tampak seperti wanita iseng yang konyol ketimbang seorang nanny yang nyawanya sedang terancam. Seandainya fokus digeser ke psikologis Greta mungkin The Boy akan lebih baik karena harus diakui goofiness dan keseraman yang dihasilkan oleh setting tidak buruk.



Berbagai kewajiban pada tugas yang dimiliki oleh Greta sebenarnya bisa digunakan untuk membuat agar arena di mana Greta dan Brahams berinteraksi secara intens dapat tersebar merata, sehingga rasa khawatir penonton dapat terus terjaga bersama rasa curiga bukannya perlahan mati dan berubah jadi rasa frustasi. Apakah Brahams benar-benar hidup? Apakah orang tua Brahams adalah orang gila? Pertanyaan tadi sebenarnya menarik tapi karena William Brent Bell terlalu sibuk merakit misteri dan mereka tidak pernah tumbuh menjadi rasa penasaran yang bisa mempertebal situasi menegangkan The Boy justru terus konsisten datar, dan ketika ending sialan itu hadir, boom, rasa kesal yang tertinggal cukup besar. Segmented.

Review Film The Cabin in The Wood

Film dengan tema horror, pada umumnya memiliki ciri khas yang tidak begitu jauh berbeda satu dengan lainnya, baik dari segi ide utama, jalan cerita, setting, hingga pada cara mereka diakhiri. Lewat The Cabin in The Wood, Drew Goddard dan Joss Whedon mencoba menyajikan sebuah cerita yang mengupas bagaimana film horror itu dibuat, dengan disertai kritikan tajam, dan sedikit permainan yang menyenangkan.

Lima pemuda-pemudi dengan karakteristik yang berbeda, Curt (Chris Hemsworth), Dana (Kristen Connolly), Jules (Anna Hutchison), Marty (Fran Kranz), dan Holden (Jesse Williams), memutuskan mengisi liburan mereka dengan menyewa sebuah kabin ditengah hutan, dan terjebak di proyek rekayasa yang dibangun Sitterson (Richard Jenkins) dan Hadley (Bradley Whitford). Terkesan standard memang, dan dengan mudah anda dapat menebak hal apa yang akan dialami kelima anak muda tersebut. Goddard dan Whedon berhasil menciptakan pembukaan, yang bagi saya menciptakan impresi awal yang sangat kuat. Bahkan saya sempat terkejut ketika perbincangan santai antara Sitterson dan Hadley tengah berlangsung, secara tiba-tiba muncul tulisan besar berwarna merah bertuliskan “The Cabin in the Wood”. Efektif!!!


Impresi awal dari segi cerita, dikontrol dengan baik oleh Goddard dan Whedon. Anda akan diajak untuk mengikuti proses penelusuran kelima pemuda-pemudi ini, melalui permainan nakal mereka yang berujung bencana. Misteri disajikan dari intensitas paling kecil, perlahan mulai bergerak naik seiring dengan tingkat ketegangan yang diberikan. Namun kunci dari film ini yang mungkin jarang anda temui dari film bertemakan horror saat ini adalah bagaimana mereka menjaga misteri yang mereka ciptakan. Kekonyolan khas anak muda jaman sekarang, kemudian disuntikkan teknologi canggih, dan kembali proses bangkitnya hantu yang sudah familiar, berhasil membuat anda untuk tetap fokus sembari berpikir apa sebenarnya maksud dan tujuan dari cerita yang mereka sampaikan. Ini ditambah dengan rasa bingung pada kemanakah cerita ini akan berakhir, karena proses eliminasi yang Goddard dan Whedon berikan kepada tokoh utama.

Humor-humor cerdas yang disuntikkan, akan sedikit mengecoh anda pada awal film, dan menganggap “oh, ini hanya permainan”. Namun, layaknya kelima tokoh utama yang telah berhasil dikurung dalam “ruang bermain” bagi Sitterson dan Hadley, anda juga akan merasakan hal yang sama. Celakanya, plot utama dari cerita ini berhasil Goddard dan Whedon tutup dengan rapat, baik, dan cermat. Ini menjadikan sajian ketegangan yang sebenarnya tidak begitu berbeda dengan apa yang film horror berikan pada umumnya, terasa berbeda karena anda masih merasa gelap dengan cerita yang tidak mengalami gebrakan yang besar, namun bergerak perlahan dari tingkat rendah, cukup, hingga yang tertinggi.

Proses eliminasi yang Goddard dan Whedon kemas selama satu jam, memberikan kesan pertama bahwa proses tersebut masih akan berlanjut. Dan, Baam, Goddard dan Whedon menghadirkan twist, yang bagi saya berhasil memberikan gebrakan cerita yang sedikit lebih besar dibandingkan satu jam pertama. Penempatan yang cerdik, berbuah hasil yang sangat cemerlang. Cerita yang telah berjalan dengan indahnya dijalur utama, dibelokkan secara gamblang, yang berhasil menjadikan saya tersenyum bahwa dugaan saya cerita akan terkuak ternyata salah besar.


Overall, The Cabin in the Wood menghadirkan tontonan yang sangat memuaskan. Sebuah film yang telah dinantikan begitu lama, sukses memberikan jawaban yang memenuhi ekspektasi awal saya. Saya merasa beruntung dengan keputusan saya menjauh dari segala review yang telah muncul. Saya bukanlah seorang penggemar horror kelas fanatik. Mungkin hal itulah yang menjadikan apa yang disajikan film ini memberikan kesan yang sangat mendalam. Lewat naskah yang mayoritas bekerja dengan baik, Goddard dan Whedon berhasil mengajak anda ikut bermain bersama lima tokoh utama yang berhasil diperankan dengan baik oleh kelima cast. Dengan plot utama yang terus dijaga dengan baik dari awal hingga akhir, anda akan terus berpikir dan mungkin saja bingung dengan maksud dari cerita yang anda saksikan, sembari terus dijejalkan ketegangan-ketegangan di bagian tengah film, yang bagi saya bukanlah sesuatu yang baru untuk genre horror. Semua clue yang Goddard dan Whedon berikan sejak awal, berfungsi dengan baik. Keindahannya adalah, Goddard dan Whedon berhasil menciptakan sebuah batas, yang menjadikan luas cakupan cerita menjadi sempit, kemudian menyuntikkan misteri dengan cara perlahan, sehingga ancaman yang dihadapi kelima tokoh menjadi menumpuk, dan disaat yang tepat menghadirkan twist yang akan membuat anda mengatakan “wow”.

Sinopsos Film Logan 2017 Lengkap

Kita bahas sedikit mengenai Film Logan 2017. Logan merupakan salah satu film terpopuler di tahun 2017 yang bergenre Action, Drama & Sci-Fi. Film ini akan disutradarai oleh James Mangold, serta merangkap sebagai penulis naskah skenario film, dan juga akan dibantu penulis lainnya yaitu Scott Frank, dan Michael Green.

Hugh Jackman, Patrick Stewart dan Dafne Keen sebagai pemeran utama dalam laga film ini, dan masih ada lagi aktor dan artis ternama yang berperan dalam film ini, seperti Boyd Holbrook, Stephen Merchant, ELizabeth Rodriguez, Richard E. Grant, dan Eriq La Salle. Marvel Entertaiment, TSG Entertaiment yang merangkap sebagai rumah produksi, dan dibantu oleh distributor 20th Century Fox, Warner Bros. Rencananya film Logan ini akan dirilis pada tanggal 01 Maret 2017 (USA).

Sinopsis Film Logan (2017)
Pada 2029 populasi mutan telah menyusut secara signifikan dan X-Men telah bubar. Logan, yang kekuatannya untuk menyembuhkan diri berkurang, telah menyerahkan dirinya pada alkohol dan sekarang mencari nafkah sebagai sopir. Dia merawat Profesor tua X yang sedang sakit yang disembunyikannya. Suatu hari, seorang wanita asing meminta Logan untuk mengantar seorang gadis bernama Laura ke perbatasan Kanada. Awalnya dia menolak, tapi Profesor sudah lama menunggu kehadirannya. Laura memiliki kecakapan bertarung yang luar biasa dan dalam banyak hal seperti Wolverine. Dia dikejar oleh sosok jahat yang bekerja untuk sebuah perusahaan yang kuat; Ini karena DNA-nya mengandung rahasia yang menghubungkannya dengan Logan.


Pengejaran tanpa henti dimulai - Dalam pertunjukan sinematik ketiga yang menampilkan karakter buku komik Marvel, Wolverine, kita melihat pahlawan super yang diliputi oleh masalah sehari-hari. Mereka penuaan, sakit dan berjuang untuk bertahan finansial. Seorang jompo Logan dipaksa untuk bertanya pada dirinya sendiri apakah dia bisa atau bahkan ingin membiarkan kekuatannya tetap digunakan dengan baik. Akan terlihat bahwa dalam waktu dekat, masa di mana mereka bisa membuat dunia memiliki hak dengan cakar tajam dan kekuatan telepati sekarang telah berakhir.

Review Film LOGAN (2017)
Pertarungan Logan atau Wolverine kini jauh lebih beringas dari semua film kemunculannya. Cakar dengan material adamantium ini ditampilkan lebih banyak dalam mengoyak ‘daging’ lawannya. Bahkan bisa dibilang, ini menjadi film bertema superhero yang paling sadis yang pernah kami saksikan. Saya agak ragu apakah film ini bisa dinikmati oleh semua penonton karena fight scene yang terlalu gory.

Tapi sutradara James Mangold cukup pandai memainkan emosi penonton. Ia membawa banyak dramatisasi dari adegan-adegan yang mengundang amarah, bagaiamana kekejian para pemburu mutan memperlakukan para mutan seperti binatang. Sehingga, penonton bisa ikut merasakan kemarahan Wolverine yang dengan membabi buta menghajar musuh tanpa ampun saat bertarung. Mungkin ini yang bisa menjadi alasan kenapa adegan bersimbah darah tetap bisa nyaman disaksikan oleh sebagian penonton.

Demikian pembahasan mengenai Film Logan 2017 saya ucapkan terimakasih sudah mau mampir.

Sekilas tentang Film IT 2017

Penggemar Film Horor pastinya tidak asing dengan hal - hal yang sering nampak di film - film Luar seperti Jumpscare, Musik yang menakutkan, pintu berdecit, kursi goyang atau barang - barang yang bergerak sendiri, Muncul hantu - hantu yang tiba - tiba, darah dan terikan jadi sesuatu yang sudah pasti ada atau bisa dikatakan bahan pokok pada film.


Akan tetapi, lain soal jika ceritanya berasal dari isi kepala maestro horor Stephen King. Lewat sentuhan imajinasinya, benda-benda banal sehari-hari seperti wastafel atau telefon genggam sekalipun bisa menjadi sesuatu yang ganjil.

Berbagai film telah mencoba menerjemahkan semesta aneh Stephen King ke dalam bahasa gambar. Ada yang mengecewakan secara kualitas dan komersial, ada juga yang sukses. It layak masuk golongan yang disebut terakhir.

Semua elemen horor yang lazim ditemui dikemas proporsional bahkan cenderung terlalu rapi. Dari yang paling murahan seperti jumpscare sampai yang paling membekas di ingatan seperti desain karakter sang hantu, seluruhnya membuat It utuh sebagai film horor.

Semesta karangan Stephen King sudah berada di batas antara realis dan surealis sehingga gestur dan sudut pandang kamera tidak perlulah dibuat ekstrem untuk membuatnya semakin aneh. Tengok saja ”The Dark Tower” yang tayang di bioskop beberapa waktu lalu.

Dalam It, penonton dibuat nyaman menyimak setiap detail artistik. Andy Muschietti, sang sutradara sepertinya ingin penonton berfokus pada cerita.

Desain konten seperti itu menjadi pintu masuk bagi generasi masa kini untuk mengenal monster bernama Pennywise dan jenis teror khas yang dibawanya.

Layaknya Jason Voorhees si pendiam yang tak bisa mati atau Freddy Krueger si penguasa alam mimpi, Pennywise si badut adalah monster yang mendapat ketenaran lewat budaya pop Amerika Serikat.

Pennywise adalah tokoh abadi rekaan Stephen King yang muncul dalam novel It tahun 1986. Popularitasnya meroket saat dia pertama kali hadir di layar dalam minsieri TV tahun 1990, juga dengan judul It.

Kenapa badut menyeramkan?
Lewat sosoknya, badut yang diasosiasikan dengan kegembiraan dan tawa didekonstruksi menjadi monster menyeramkan. Faktanya, toh memang tak semua anak suka badut meski dia selalu tersenyum.

Terkait hal ini, Steven Schlozman, psikiater dari Harvard Medical School yang punya ketertarikan khusus pada film horor mengutarakan pandangannya. Menurutnya, badut seram karena banyak sebab mulai dari bentuk wajah tidak natural sampai pengalaman traumatis masa kecil.

Menariknya, dia menilai badut seram karena punya salah satu unsur horor paling fundamental yaitu senyum palsu. Saat kita mengenali sebuah senyuman, otak kita megolah informasi bahwa senyum berkaitan dengan sesuatu yang baik. Namun kemudian kita menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh dan salah kalau orang tersenyum sepanjang waktu tanpa alasan.

Hal yang sama juga berlaku untuk badut. Jika direnungkan, pendapat itu menguatkan sebab mengapa Joker versi Heath Ledger dalam ”The Dark Knight” (2008) jauh lebih menyeramkan dibanding Joker versi manapun.

Maka dari itu, kalau di tempat kerja Anda, di kampus, sekolah, atau mungkin di rumah ada yang menatap Anda dengan senyuman aneh, bisa dipastikan artinya ada sesuatu yang tidak beres.

Estafet trauma
It berkisah tentang sekelompok anak umur sekira 13 tahun korban perisakan yang tinggal di kota kecil Derry, Maine, Amerika Serikat. Saat libur musim panas tiba, mereka berambisi memecahkan misteri hilangnya adik salah seorang dari mereka.

Dalam petualangannya, mereka pun dihadapkan pada fakta bahwa banyaknya orang hilang di lingkungan itu berkaitan dengan legenda sumur tua dan sosok badut menyeramkan, Pennywise (Bill Skarsgard), yang muncul rutin setiap 27 tahun sekali.

Pennywise menebar senyum. Namun di balik senyumnya, bukan kegembiraan yang dibagikan. Seumpama bawang, Pennywise hanyalah lapisan kulit terluar yang menutupi sumber ketakutan utama setiap orang, yang tentu saja berbeda-beda.

Karena teror Pennywise terus berulang secara rutin dan mengantui hampir setiap anak di sana, generasi demi generasi masyarakat Derry selalu tumbuh dalam kondisi pascatrauma. Tak pernah terputus.

Pengalaman mengerikan masa kecil mengendap dan diwariskan kepada keturunannya. Begitu seterusnya. Setiap anak adalah korban ketakutan orangtuanya yang lantas mewujud dalam bentuk pelecehan seksual, perisakan, dan rasisme. Tidak ada karakter orang dewasa yang tersenyum sepanjang film ini.

Menyimak premisnya, tidak bisa tidak, membuat kita teringat pada petualangan sekelompok anak dalam film ”Stand by Me” (1986). Kasusnya pun serupa, upaya konyol anak-anak memecahkan misteri orang hilang. Bedanya, It berbalut nuansa lebih muram dan tidak terlalu dalam menggali karakter setiap anak.

Di sisi lain, It, seperti juga ”Stand by Me”, menyadarkan kita untuk terus berusaha berdamai dengan sumber ketakutan yang meneror kita sejak kecil. Jagan pula menularkannya kepada anak. Alih-alih menjadi kenangan buruk, kita diingatkan untuk menyikapinya dengan senyum, yang semoga bukan senyuman palsu

Terungkap Misteri Film The Belko Experiment

Film The Balko Experiment adalah film horor yang banyak menampilkan pembunuhan yang tidak pantas. atau bahkan menyeramkan. Bagaimana tidak Film yang menyeritakan tentang sebuah gedung Milik Amerika Serikat yang dinamakan gedung Balko. Didalam gedung ini terdapat sebuah simulasi yang mengerikan dan berbagai banyak lagi. Di awal cerita awal mulanya semua berjalan baik - baik saja tetapi agak aneh saja semua petugas diganti dengan petugas baru yang entah semua tidak menyadarinya hanya satu orang saja yang menyadari bahwa banyak petugas keamanan yang diganti hanya Mike saja yang agak aneh dan merasa ada yang salah dengan semua ini, Di Simulasi pertama yaitu Didalam gedung ini terdapat setidaknya 80 orang yang setiap orang mewajibkan untuk membunuh temannya sebanyak 2 orang. Bayangkan betapa mengerikannya setiap orang mengharuskan membunuh temannya sendiri yang sudah bertahun - tahun bekerja bersama didalam gedung. Pada mulanya semua tenang dan tidak ada kegaduhan yang terjadi tetapi ketika mulai beberapa orang yang diledakkan kepalanya melalu chip yang dikira para pekerja lain adalah sebuah chip asuransi kesehatan dirubah menjadi bom waktu yang dapat membunuh semua pekerja disana. Lanjut di simulasi kedua yang pada saat itu tersisa sekitar 64 orang yang berada digedung tersebut mengharuskan mengurangi 30 orang entah dengan cara apapun. Tidakan pertama yang berbeda dengan pemikiran Mike yang saat itu adalah tokoh utama di Film The Belko Experiment pemimpin tertinggi di gedung tersebut yang bernama Barry Noris yang memiliki sekutu Wendel, Terry dan satu orang besar yang entah lupa namanya. Mereka berempat hendak mengikuti perintah untuk membunuh 30 orang yang terdapat digedung tersebut mereka memilih mementingkan kepentingan pribadi ketimbang kepentingan teman kerjanya. Di Simulasi terakhir semua yang tersisa diharuskan membunuh sebanyak - banyak dan yang memiliki jumlah membunuh terbanyak dia lah yang selamat dan bisa keluar dari gedung tersebut. Dan akhirnya tokoh utama yaitu Mike keluar dengan selamat meskipun hanya membunuh rekan kerjanya sendiri. Didalam film yang menurut saya paling aneh dan menjanggal adalah lambang dari Gedung tersebut dan memiliki motto " Bringging the World Together" yang memiliki arti Membawa dunia bersama - sama. Pembahasan mengenai lambang dari Belko tersebut adalah lambang dari mata Horus yang biasa digadang - gadang dan digabungkan dengan lambang dari Iluminati ya lambang mata satu tersebut yang mewarni didalam film Belko Experiment.

Daftar 5 Film Horor terbaik dan terseram 2017

Tahun 2017 kembali disemarakkan oleh film film dengan genre horor. Memang film genre ini menjadi salah satu yang favorit karena mampu menghadirkan efek tegang dan ketakutan di sepanjang pemutaran film. Tidak semua movie lovers memang berani menonton film horror, namun film jenis ini masih tidak kehabisan peminat. Beberapa film horor mampu mencuri perhatian dan berhasil sukses  di tahun 201, sebut saja seperti Lights Out, Green Room atau Don't Breathe.

Selain itu juga terdapat sekuel film horor barat populer The Conjuring, dimana di seri kedua ini diberi judul The Enfield Poltergeist. Sejumlah film dengan genre ini pun sering dipadukan dengan berbagai unsur misteri, dimana contoh film horor misteri bisa dilihat pada berbagai judul film seperti 10 Cloverfield Lane dan Hush.

Dari semua film horor yang telah dirilis di tahun 2016 ini, kami mencoba untuk menyusun lima judl di antaranya yang dapat dikategorikan sebagai yang terbaik. Tentu beberapa penilaian dijadikan sebagai kriteria penyusunan list, mulai dari kualitas film secara overall, rating film dari berbagai situs, popularitas dan tentu saja tingkat keseraman film tersebut. Berikut list selengkapnya.
1. Annabelle Creation 2 (2017)
Film Horro boneka yang sangat menegangkan dan juga pstinya sangat seram ini di gadang - gadang menjadi film horro terseram pertama. Bagaimana tidak film yang memunculkan sebuah boneka yang diberi Annabelle ini membuat gentar para penontonnya ketika muncul sosok Annabelle ini.
2. The Mummy (2017)
The Mummy adalah sebuah film fantasi aksi-petualangan Amerika yang disutradarai oleh Alex Kurtzman serta ditulis oleh Billy Ray dan Jon Spaihts, sebagai reboot dari film 1999 dengan nama yang sama dari waralaba The Mummy dan film pertama dari Dark Universe milik Universal Studios. Film tersebut dibintangi oleh Tom Cruise, Sofia Boutella, Annabelle Wallis dan Jake Johnson. Film tersebut dirilis pada 7 Juni 2017 di seluruh jaringan bioskop Indonesia.
3. The Crucixifion (2017)

Kalau kamu memang berani, coba deh tonton trailer The Crucifixion malam hari! Baru cuplikannya saja sudah bikin bulu kuduk berdiri dan susah tidur. Gimana dengan film aslinya ya? Film yang berlatar belakang di Roma dan konon dari kisah nyata ini sangat ditunggu-tunggu banget. Jangan mau ketinggalan!
4. It (2017)
Film yang menampilkan badut seram ini sangat lah menegangkan dan seram, bagaimana tidak anak - anak yang terdapat dalam film tersebut ketakutan bukan maen saat ingin menyelamatkan dan mencari adiknya yang bernama Georgio. Cerita diawali ketika Georgio ingin bermain perahu tetapi perahunya terhanyut deras dikarenakan hujan yang deras dan masuk ke selokan, akan tetapi didalam selokan tersebut terdapat badut yang seram dan memakan sebagian tangan dari Georgio lalu semua tubuhnya di tarik kedalam selokan tersebut. Awal kisah dimulai ketika kakanya Georgio penasaran dengan menghilangnya adik kesayangannya Georgio.
5. Pengabdi Setan
Ya Film satu ini yang berasal dari Indonesia termasuk dalam film terseram dan terbaik di tahun 2017. Bagaimana tidak dilangsir dalam situs Malaysia banyak yang menyatakan kesurupan dikarenakan menonton film tersebut. Film ini termasuk film terlaris di Indonesia tahun 2017.
Bagaimana menurut anda adakah film yang menurut anda semua lebih seram dari kelima film ini atau ada yang setuju dengan pendapat saya silahkan beri komentar di bawah ini sekian terimakasih