Review Film TRUTH OR DARE (2018) : Mainkan atau Mati

‘Truth or Dare’ merupakan film bergenre horor dan thriller yang berasal dari negara Amerika Serikat. Film ini disutradarai oleh Jason Blum, dan skenarionya ditulis oleh Jeff Wadlow.

Film Truth or Dare yang diproduksi oleh Blumhouse Productions dan didistribusikan oleh Universal Pictures, fokus ceritanya tentang Olivia dan teman-temannya memainkan permainan Truth or Dare, yang kemudian berubah menjadi sebuah malapetaka dan teror. Truth or Dare adalah sebuah permainan yang mengharuskan setiap pemain yang ditunjuk menjawab pertanyaan dengan jujur atau melakukan tantangan yang diberikan oleh lawan mainnya.

Film ini dibintangi di antaranya oleh Lucy Hale, Violett Beane, Tyler Posey, Nolan Gerard Funk, Landon Liboiron.

Sinopsis Film Truth or Dare

Film Truth or Dare bercerita tentang sekelompok mahasiswa, Olivia dan teman-temannya yang memainkan permainan ‘truth or dare’ atau yang biasa dikenal dengan permainan jujur atau berani, untuk bersenang-senang. Permainan berawal dengan sangat menyenangkan berjalan dengan mulus. Hingga kemudian sebuah kejadian diceritakan oleh salah satu pemain sebagai permintaan menjawab pertanyaan dari permainan ini.

Namun tanpa disangka permainan itu membawa teror dan kematian bagi para pemainnya. Permainan Truth or Dare ini kemudian menjadi mencekam ketika keanehan pertama muncul dan dialami oleh Olivia, dan dia juga mendapatkan berbagai teror menyeramkan.

Teror dari permainan ini juga dialami oleh teman-teman Olivia. Teror yang tidak wajar ini, diyakini berasal dari makhluk supranatural yang terus membayangi kehidupan mereka.

Segalanya berubah, permainan ini menjadi semakin menakutkan ketika mereka menyadari sebuah peraturan dimana para pemainnya harus menjawab dengan jujur dan harus menerima tantangan melakukan kegiatan yang diminta oleh makhluk astral tersebut.

Seseorang memulai untuk menghukum orang-orang yang berbohong atau menolak tantangan Permainan ini pun berubah menjadi teror yang mematikan. Satu persatu teman-teman Olivia ikut menjadi korban permainan Truth or Dare. Mereka harus menjawab dengan jujur atau menerima tantangan, dan jika tidak hukumannya adalah kematian. Olivia mulai sadar ada seseorang di balik keganjilan yang mereka dapatkan.

Dapatkah mereka selamat atau menghentikan ancaman teror itu?

Detail Cast and Crew Film TRUTH OR DARE

Jenis Film : Horor, Thriller
Durasi : 100 menit
Negara Asal :Amerika
Produser : Jason Blum
Sutradara : Jeff Wadlow
Penulis Naskah : Jillian Jacobs, Michael Reisz, Christopher Roach, Jeff Wadlow
Produksi : Blumhouse Productions, Universal Pictures
Pemain : Lucy Hale, Violett Beane, Tyler Posey, Nolan Gerard Funk, Brady Smith, Aurora Perrineau, Landon Liboiron, Sophia Taylor Ali

Review Film COLD SKIN (2018): Hidup dalam Kesendirian di Antartika

‘Cold Skin’ adalah film bergenre adventure dan sci-fi kolaborasi dua negara yaitu Spanyol dan Prancis. Film ini diproduksi oleh Kanzaman, Ink Connecting, Samuel Goldwyn Films, dan ceritanya digarap oleh Jesus Olmo, Eron Sheean dan Albert Sanchez Pinol. Sedangkan untuk sutradara dipercayakan pada Xavier Gens.

Film Cold Skin, intinya bercerita tentang seorang pemuda yang bertahan hidup sendirian di Antartika, dan melawan makhluk misterius yang ada di situ. Dibintangi oleh Ray Stevenson sebagai pemeran utamanya. Bintang lainnya yakni David Oakes, Aura Garrido.

Film ini telah dirilis di spanyol pada 20 Oktober 2017. Film ini masih layak di tonton walaupun endingnya terkesan dibuat sederhana dan tidak seperti yang kita inginkan.

Sinopsis Film Cold Skin

Film ‘Cold Skin’ bercerita pada masa perang dunia tahun 1914, seorang pemuda (Ray Stevenson) ditugaskan untuk melakukan perjalanan ke kutub selatan menuju sebuah pulau terpencil di antartika, untuk menggantikan seorang pengamat/peramal cuaca (petugas mercusuar) yang telah lebih dahulu bertugas di sana.

Meski keraguan tengah meliputi pemuda tersebut, namun ia tidak memiliki pilihan lain. Berangkatlah sang pemuda menggunakan kapal uap. Ternyata, setiba di sana, ia tak menjumpai petugas yang hendak digantikannya. Ia hanya menemukan seorang pria tua bernama Gruner. Menurut Gruner Kemungkinan sang petugas yang lama meninggal karena penyakit tifus yang saat itu sedang terjadi di Eropa.

Saat malam datang, si pemuda tiba-tiba diserang oleh makhluk misterius. Beruntung ia bisa selamat. Keesokan harinya, ia menemui Gruner. Pria itu menjelaskan bahwa yang menyerang si pemuda semalam adalah humanoids laut, hewan atau manusia langka dan penyebab mengapa menyerang tak diketahui.

Di sana, di ujung bumi, si pemuda harus bertahan hidup dalam kesendirian. Dia tidak menemukan jejak orang yang telah lebih dahulu dikirim, hanya orang tanpa nama yang telah menyaksikan kengerian yang ada di pulau itu.

selama 12 bulan ke depan, si pemuda hidup dalam kesendirian dan keheningan, termasuk makhluk-makhluk aneh berbahaya di sekitarnya. Mampukah ia bertahan?

Detail Cast and Crew Film COLD SKIN   

Jenis Film : Adventure, Horor, Sci-fi
Durasi : 106 menit
Negara Asal : Spanyol, Prancis
Produser : Mark Albela Denise O’dell
Sutradara : Xavier Gens
Penulis Naskah : Jesus Olmo, Albert Sanchez Pinol, Eron Sheean.
Produksi : Kanzaman, Ink Connecting, Samuel Goldwyn Films, Diamond Film (distributor)
Pemain : Ray Stevenson, David Oakes, Aura Garrido, Winslow M. Iwaki, John Benfield
Rilis : TBA Juni  2018

Apakah Reverie Itu, Kronologi Sejarah, dan Negara-Negara Peserta Nya

Dalam teori One Piece kali ini kita akan membahas apakah Reverie itu. Dalam sejarahnya, reverie yang merupakan pertemuan raja-raja dunia di Mariejois ini memegang peranan penting dalam mengendalikan dunia di One Piece dalam kekuasaan World Government. Lebih dari 50 negara mengikuti Reverie ini. Beberapa di antaranya sudah pernah dikunjungi oleh Bajak Laut Topi Jerami, seperti Alabasta, Ryugyu, Dressrosa, dan Sakura Kingdom.

Reverie atau Dewan Dunia/ Konferensi Dunia, sesuai namanya adalah pertemuan dewan dunia yang dibentuk oleh World Goverment yang terdiri dari para pemimpin elite negara-negara di dunia One Piece. Pertemuan ini dilakukan dalam empat tahun sekali. Dalam Chapter 823 diungkapkan bahwa Reverie digunakan untuk membahas masalah-masalah penting yang bisa berpengaruh pada kemaslahatan dunia.

Sejarah Reverie
Dalam sejarah Reverie yang telah terungkap sejauh ini, yang paling bisa dicatat adalah, pertemuan ini bisa mengizinkan negara atau kerajaan baru untuk masuk, di luar 20 kerajaan yang membentuk Pemerintahan Dunia.

Dikisahkan oleh Donquixote Doflamingo di volume 73 (Chapter 722), 800 tahun lalu 20 raja dari 20 negara berkumpul di pusat dunia dan membentuk sebuah organisasi raksasa, yang di kemudian hari disebut sebagai Wolrd Government (Pemerintahan Dunia). 19 dari 20 raja tersebut pindah ke Mariejois, sementara satu lagi, Raja dari keluarga Nefertari, bertahan di Kerajaan Alabasta.

Nyatanya, saat ini dunia tidak hanya terdiri dari 20 negara tersebut. Dalam Chapter 823, setidaknya terdapat lebih dari 50 negara yang berkumpul di Reverie, yang artinya ada tambahan lebih dari 30 negara yang bukan tergolong 'para pencipta dunia' atau 20 kerajaan yang membentuk World Government.

Contoh yang paling nyata adalah kerajaan Ryugyu yang kini dikuasai oleh Raja Neptune. Kerajaan ini baru 200 tahun lalu bergabung ke World Government dan mendapatkan hak masuk ke Reverie.

Baca Juga!

Rencana Sebenarnya Sabo, Monkey D. Dragon dan Pasukan Revolusioner

Daftar Lengkap Kru Bajak Laut Kurohige

Kronologi Reverie
Dalam dunia One Piece, semestinya Reverie sudah tidak terhitung lagi digelar. Dengan demikian berbagai keputusan sudah dikeluarkan oleh pertemuan tersebut, dan belum semuanya terungkap. Namun, beberapa Reverie yang sudah dapat direkam hingga Chaper 824 adalah seperti berikut.

Reverie 16 tahun lalu
Tidak diketahui hasil Reverie 16 tahun lalu. Tetapi yang pasti, pada saat tersebut Ratu Otohime dari Kerajaan Ryugyu menyusul rencana agar kerajaannya dipindahkan ke daratan. Hal ini ditujukan untuk mempererat hubungan antara manusia dengan duyung dan manusia-ikan. Saat itu, rakyat Kerajaan Ryugyu diminta mengumpulkan tanda tangan sebagai bukti dukungan.

Namun, 15 tahun lalu Bajak Laut Fisher Tiger menyerang Mariejois dan membebaskan para budak. Akibatnya, Kerajaan Ryugyu dilarang hadir di Reverie berikutnya (yang berarti Reverie 12 tahun lalu).

Reverie delapan tahun lalu
Melewati Reverie 12 tahun lalu, kita menuju Reverie delapan tahun lalu (8 tahun sebelum time skip). Di sini, Thalassa Lucas, raja kerajaan Ilusia di West Blue menyebutkan ancaman Monkey D. Dragon sang revolusioner (pemimpin Tentara Revolusi), dan mengklaim ideologi yang dibawa Dragon sangat berbahaya untuk World Government dalam empat-lima tahun ke depan.

Ucapan Thalassa Lucas ini tidak digubris oleh Wapol, raja Black Drum Kingdom. Kenyataannnya, Dragon benar-benar membawa masalah di kemudian hari, ketika pasukannya semakin luas dan mulai menaklukkan negara-negara di dunia One Piece.

Reverie tahun ini
Reverie yang digelar tahun ini (tahun pasca timeskip) bisa jadi mengungkap cerita sebenarnya tentang World Government, Abad Yang Hilang, dan hal-hal rahasia lainnya. Pasalnya, Raja Cobra Nefeltari menyebut, dirinya ingin bertanya tentang Poneglyph dan sejarah masa lalu pendirian World Government yang sejatinya sangat tabu.

Negara Peserta Reverie

Sejauh ini negara peserta Reverie yang sudah diungkap adalah
1. Kerajaan Alabasta, dengan raja Nefertari Cobra
2. Kerajaan Ryugyu, dengan raja Neptune
3. Kerajaan Dressrosa, dengan raja Riku Dold III
4. Kerajaan Black Drum, dengan raja Wapol
5. Kerajaan Sakura, dengan raja Dalton
6. Kerajaan Goa, dengan raja Stelly
7. Kerajaan Prodence, dengan raja Elizabello II
8. Kerajaan Ilusia
9. Kano Kuni

Daftar Lengkap Kru Bajak Laut Blackbeard Atau Kurohige

Dalam karakter One Piece kali ini, kita akan membahas daftar lengkap Kru Bajak Laut Blackbeard, atau Kurohige, alias jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia, Janggut Hitam. Bajal Laut Blackbeard ini diperkirakan akan menjadi rival utama Bajak Laut Topi Jerami dalam memburu One Piece. Kapten mereka Blackbeard atau Kurohige, termasuk dalam Generasi Terburuk, dan sekarang menjadi salah satu Yonko (Empat Kaisar).

Bajak Laut Kurohige adalah kelompok bajak laut yang paling meroket dalam rentang waktu singkat sejak sebelum Perang Puncak Marineford hingga era Aliansi Bajak Laut. Hanya butuh waktu dua tahun bagi Kurohige untuk menangkap Portgas D. Ace, mendapatkan jabatan Shichibukai, membunuh Edward Newgate alias Shirohige, mengalahkan Bajak Laut Whitebeard/Shirohige, lantas menjadi Yonko.

Hal ini tidak terlepas dari prinsip Kurohige yang selalu memasuki perang ketika kemungkinan menangnya mencapai 200 persen. Meskipun Kurohige selalu menekankan, tidak ada yang tidak mungkin, ia berbeda dengan Monkey D Luffy dan Gold D Roger yang cenderung bergerak karena suasana hati. Kurohige sangat perhitungan sesuai prinsipnya hanya turun di pertempuran yang bakal dimenanginya tadi.

Sebagai contoh, ia menangkap Ace agar bisa mendapatkan jabatan Shichibukai. Dengan jabatan tersebut, Kurohige tidak diawasi ketika datang ke Impel Down. Momen yang dipilih pun sangat tepat. Kurohige datang ke Impel Down ketika Angkatan Laut berkonsentrasi menangkap Luffy, Jinbe, Crocodile, Buggy, dan Emporio Ivankov. Dengan taktik ini, Kurohige mendapatkan tambahan lima awak, yang berasal dari empat tahanan level enam Impel Down, bersama mantan kepala Impel Down, Shilliew.

Kurohige juga sangat perhitungan saat ingin mendapatkan Gura Gura no Mi dari Shirohige. Ia menunggu hingga Shirohige bertempur dengan para Admiral, terluka oleh Squard Si Laba-Laba, lantas mengalami cedera serius (kepalanya tinggal setengah) oleh hantaman Akainu. Melawan Shirohige tua yang sudah cedera parah, Kurohige kalah. Namun, seluruh krunya (kecuali Sanjuan Wolf) menembak dan menusuk Shirohige hingga tewas. Dari sinilah, Kurohige bisa mendapatkan Gura Gura no Mi.

Tidak boleh dilupakan, Kurohige adalah satu-satunya pemilik dua buah iblis, yaitu Yami Yami no Mi (buah kegelapan) dan Gura Gura no MI (buah gempa tsunami). Yami Yami no Mi digunakannya untuk kemampuan defensif, sementara Gura Gura no Mi untuk kekuatan ofensif.

Baca Juga!

Daftar Nama Keluarga Vinsmoke & Julukan Saudara Sanji

Daftar Anak Yonko Big Mom

Berikut ini daftar lengkap kru Bajak Laut Kurohige.


Marshall D. Teach
Kapten Bajak Laut Kurohige yang licik, cerdas, tetapi kadang terlihat agak ceroboh dan suka 'berjudi'. Memiliki dua kekuatan buah iblis, yang menyokong statusnya sebagai Yonko. Memiliki kru yang tangguh, dan para kapten di bawah naungannya terkenal dengan julukan Ten Titanic Captains (Ju-nin no Kyokan Sencho).

Jesus Burgess
Kapten kapal pertama Kurohige, termasuk dalam Ten Titanic Captains. Seorang petarung, yang terlibat dalam kekacauan di Kerajaan Dressrosa.

Shilliew
Mantan kepala sipir Impel Down yang berkhianat. Seorang jago pedang. Kapten kapal kedua Kurohige.

Laffitte
Salah satu anggota Bajak Laut Blackbeard sejak awal. Punya kemampuan hiptonis yang dapat mengendalikan siapa pun. Memiliki sayap di punggung.Kapten kapal kelima Kurohige.

Van Augur
Seorang penembak jitu, yang bisa membidik lawan dari jarak yang luar biasa jauh.

Doc Q
Sosok yang digambarkan menderita batuk berdarah. Kontradiktif dengan perannya sebagai dokter.

Stronger
Hewan tunggangan Doc Q.

San Juan Wolf
Salah satu tawanan level enam Impel Down yang dibebaskan Kurohige. Terkenal dengan julukannya, Si Kapal Perang Raksasa mengingat ukurannya. Wajahnya mirip onigiri (nasi kepal).

Catarina Devon
Salah satu tawanan level enam Impel Down yang dibebaskan Kurohige. Terkenal dengan julukannya, Si Pemburu Bulan Sabit. Gaya unik tertawanya adalah mu run fu fu fu.

Avalo Pizarro
Salah satu tawanan level enam Impel Down yang dibebaskan Kurohige. Terkenal dengan julukannya 'Si Raja Korup'.

Vasco Shot
Salah satu tawanan level enam Impel Down yang dibebaskan Kurohige. Terkenal dengan julukan Si Pemabuk berat. Kata yang sering diucapkannya adalah Top, Top, Top.

Kuzan
Mantan Admiral Angkatan Laut dengan nama kode Aokiji. Keberadaannya di Bajak Laut Kurohige masih misterius, apakah ingin membalas dendam pada Akainu, menegakkan kebenaran versinya yang berbeda dengan Angkatan Laut yang sekarang, atau justu menjadi mata-mata.

Alasan Blitzmegaplex Berganti Nama Menjadi CGV

Terhitung sejak 1 Januari 2017, bioskop chain CGV Blitz di Indonesia telah resmi berubah nama menjadi CGV Cinemas.

Hal tersebut disampaikan dalam konferensi pers oleh CGV Cinemas yang dilangsungkan di studio Gold Class CGV Cinemas Grand Indonesia, Selasa (10/01). Acara yang dihadiri oleh jajaran petinggi CGV Cinemas Indonesia itu juga turut menghadirkan Presiden Direktur Graha Layar Prima Tbk, Bpk. Bernard Kent Sondakh. Perusahaan Graha Layar Prima Tbk sendiri merupakan mitra utama CJ CGV di Indonesia.

Sejak berdiri dengan nama Blitz Megaplex di tahun 2004, PT Graha Layar Prima membuka bioskop Megaplex pertama di Paris Van Java, Bandung, di tahun 2006. Sejak itu, secara bertahap namun pasti, perusahaan ini pun terus berkembang hingga bergabung dengan CJ CGV di tahun 2013.

Auditorium Gold Class di CGV Cinemas Grand Indonesia, Jakarta. | foto: iyaa.com

CGV Cinemas Indonesia sendiri hingga saat ini telah hadir di berbagai kota besar Indonesia dengan jumlah total 27 bioskop dan 185 layar. Berbagai jenis auditorium menarik seperti Velvet+, Gold Class, Sweet Box, Starium, SphereX, dan 4DX dipersembahkan agar para penikmat film dapat merasakan pengalaman menonton yang tidak biasa. Pada tanggal 21 Desember 2016, CGV Cinemas Indonesia juga telah berhasil meraih 10 juta penonton, jauh melampaui total 7 juta penonton di tahun 2015 lalu.

Mengusung visi 'Evolving Beyond Movies' dan menjadi 'No.1 Cultureplex' di Indonesia, CGV Cinemas kini bertujuan mengubah bioskop tidak hanya sebagai tempat menonton film, tapi juga sebagai wadah berkumpulnya berbagai kebudayaan dan kreativitas. Sehingga ke depannya, pengalaman dan kepuasan tersendiri akan didapat secara lebih oleh pengunjung CGV Cinemas. Tentunya, berbagai inovasi dan target lainnya akan terus dikembangkan oleh CGV Cinemas dan CJ Group sebagai induk perusahaan.

Selamat untuk CGV Cinemas!

Review Film The Babadook (2014)

Mana diantara dua opsi berikut yang menurut anda akan memberikan sensasi menonton yang lebih mengasyikkan: secara konsisten terus disajikan berbagai materi horor dari gimmick klasik hingga jump scare, atau justru masuk kedalam petualangan dimana anda hanya di beri tahu bahwa ada sesuatu yang menyeramkan disana namun kemudian dilepas untuk bermain-main secara liar bersama imajinasi yang perlahan membentuk sendiri rasa takut anda? For me opsi kedua lebih mengasyikkan, dan film ini punya hal tersebut, The Babadook, a very good classic haunted house & psychological horror. Gripping. Riveting!

Pada hari dimana ia hendak melahirkan, wanita bernama Amelia (Essie Davis) justru harus kehilangan salah satu sosok yang paling ia cintai dalam hidupnya. Suaminya, Oskar (Ben Winspear), meninggal dunia akibat kecelakaan mobil tujuh tahun yang lalu, kisah yang juga menjadi favorit bagi anak mereka Samuel (Noah Wieseman) untuk diceritakan kepada orang lain. Celakanya beban Amelia tidak hanya harus berjuang keluar dari mimpi buruk tadi, menjadi ibu tunggal di usia muda, namun juga harus berhadapan dengan tingkah laku Sam yang bahkan telah dinilai mengerikan oleh orang-orang disekitar mereka.

Namun seperti ibu pada umumnya Amelia tidak merasa ada yang salah pada Sam, ia bahkan dengan sabar menunjukkan pada anaknya itu bahwa tidak ada sosok aneh di dalam lemari hingga dibawah tempat tidur seperti yang ia ucapkan, dan kemudian membacakan Sam buku cerita sebelum tidur. Tapi suatu hari siklus yang mereka lakukan secara teratur itu berubah dimana Sam diperbolehkan untuk memilih buku cerita yang ia inginkan. Buku yang dipilih itu berjudul "Mister Babadook", buku bersampul merah tanpa penerbit dan penulis yang berkisah tentang tuan Babadook, sosok supranatural yang membawa bahaya bagi mereka.


Pertanyaan di bagian awal tadi sesungguhnya telah menjadi clue yang sangat besar, bahwa The Babadook bukan merupakan sebuah horror yang menggunakan premis dari sinopsis yang ia punya agar membuka arena bermain untuk kemudian menyuapi penontonnya dengan materi horror sembari mengajak mereka mencari jawaban atas teka-teki yang ia lemparkan. Jennifer Kent menekan kuantitas hal tersebut pada kisah yang ia lebarkan dari film pendek miliknya yang berjudul Monster ini, menjaganya untuk tampil dalam kualitas yang tidak kalah baik, namun kemudian menyandingkan hal tadi bersama perputaran cerita yang berisikan kelelahan psikologis atau penderitaan mental yang menyenangkan.

The Babadook adalah film horror yang menyenangkan karena berhasil bercerita dengan rapi. Seperti yang disebutkan sebelumnya anda tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada karakter, dan tanpa mencoba untuk tampil rumit penonton akan dengan mudahnya terjebak kedalam cerita berkat pesona dari dua karakter yang mampu membentuk "something wrong" itu tampak menjanjikan. Tapi dari sana pula penonton kemungkinan akan terpecah karena pada dasarnya The Babadook mayoritas berisikan aksi menunggu dimana kita diajak untuk mengamati proses destruksi pada karakter dari positif menjadi negatif, dan dengan visi yang kuat hal itu berhasil Jennifer Kent tampilkan dengan padat.


Apa maksudnya? Mengapa begitu rumit hanya untuk ditakut-takuti? Sebenarnya tidak, jika anda sejak awal telah klik dengan visi Jennifer Kent yang memilih tampil dengan visi sebuah tahapan, sebuah petualangan yang lebih mengedepankan permainan atmosfir atau suasana hati untuk kemudian membangun masalah dengan perlahan diselimuti keheningan tanpa harus kehilangan kontrol pada sensasi. Mungkin akan terasa asing, tapi pilihan berani itu menghasilkan kemasan yang terasa kuat, dari "something wrong" masuk kedalam permainan emosional ditemani rasa sedih, benci, marah, stress, dan takut, kemudian terjebak lebih dalam bersama terror serta berbagai guncangan yang dikemas dengan cekatan.

Hasil dari skenario tadi adalah sebuah tahap akhir yang "menyeramkan" dan membayar lunas kesabaran para penontonnya. Derit pintu, langkah perlahan, menanti di kegelapan dalam kondisi waspada, hal-hal klasik tadi bahkan kerap di mix dengan momen-momen lucu yang mampu mengundang tawa, tapi alasan mengapa The Babadook merupakan real deal di genre horror tahun 2014 sejauh ini adalah karena ia mampu menyandingkan dengan sangat baik narasi bersama dengan sensasi. Apa yang anda inginkan dari sebuah film horror The Babadook punya, dan meskipun kuantitasnya terasa kurang tidak akan terasa mengganggu berkat narasi yang dipenuhi interaksi dan emosi yang juga tampil menarik.


Lantas apa minus yang mengganggu dari The Babadook? Imo tidak ada, tidak begitu menyeramkan memang tapi sensasi horror yang ia berikan sangat menyenangkan. Nah, hal terakhir itu yang mungkin akan sedikit berbeda, tidak ada boom-boom-boom penuh kejutan oktan tinggi disini, The Babadook lebih seperti sebuah orchestra yang membuat penontonnya terombang-ambing dan kemudian terkejut ketika nada sedikit tinggi hadir sesaat. Semua dijaga untuk tampil ketat, dari fokus pada cerita, fokus pada emosi, hingga atmosfir, meskipun ada aksi menunggu tidak ada yang terasa layu, semua karena tersusun dalam sebuah skema yang di eksekusi dengan rapi, keseimbangan yang mampu membentuk teknik seperti close-up dapat memberikan rasa segar pada horror tradisional ini.

Dua pemeran utama juga punya andil sangat besar pada kesuksesan yang diraih The Babadook, terlebih mengingat penggunaan efek yang cukup minim disini. Noah Wieseman adalah bintang baru yang cemerlang, sangat suka pada cara ia melemparkan teror di awal dengan menggunakan mata, kesan ambigu pada misteri juga mayoritas terjaga dengan sangat baik berkat kemampuannya dalam menyeimbangkan penggunaan ruang bersama Essie Davis. Mungkin masih terlalu dini, tapi nama terakhir punya kans yang cukup kuat untuk menjadi aktris terbaik versi saya tahun ini, seperti menyaksikan Mia Farrow di Rosemary Baby, berawal dari rasa lelah kemudian kemunculan rasa sakit, marah, hingga sedih itu ditampilkan dengan sangat baik oleh Essie Davis namun tetap mudah dijangkau oleh penontonnya.


Overall, The Babadook adalah film yang memuaskan. Sederhana dan tradisional, tapi keputusan untuk tidak hanya sebatas menjual efek khas horor bersama visual suram, kemudian menyandingkan mereka dengan narasi yang lucu tanpa harus terasa konyol, menyentuh tanpa terasa terlalu mellow, hingga bermain-main liar dalam ketenangan tanpa terasa menjengkelkan, Jennifer Kent serta dua pemeran utama berhasil menghadirkan efektifitas pada sebuah dongeng psikologis dan supranatural yang: bijak dalam bercerita, lembut ketika berjalan, namun tetap pedas saat memberi "kejutan". Ba-ba-ba! Dook-dook-dook!

Daftar Nama Keluarga Vinsmoke & Julukan Saudara Sanji

Dalam karakter One Piece kali ini kita akan membahas daftar nama keluarga Vinsmoke dari Kerajaan Germa. Keluarga ini dipimpin oleh Vinsmoke Judge, yang memiliki lima anak. Setiap anak memiliki julukan tersendiri. Juga memiliki nama yang sesuai dengan urutan nomor, dimulai dari Reiju yang berarti 'nol' dan diakhiri dengan Yonji yang berarti 'empat'. Sanji adalah anak keempat di keluarga Vinsmoke, tetapi namanya berarti 'tiga'.

Sudah sejak lama banyak teori yang menyebutkan bahwa Sanji bakal memiliki saudara yang namanya berkaitan dengan nomor, mengingat 'San' berarti tiga. Tetapi ketika Keluarga Vinsmoke muncul, ternyata saudara Sanji tidak sebatas soal penamaan yang unik. Seperti Sanji, mereka punya alis melingkar-lingkar yang membentuk angka 66, baik terbalik atau tidak. Bisa jadi, angka 66 tersebut adalah bukti kalau mereka adalah manusia 'buatan' produk Vinsmoke Judge.

Di Chapter 841, Vinsmoke Judge menjelaskan kepada anak-anaknya, "Dengar baik-baik, kalian semua adalah ciptaan terbaikku sepanjang masa. (Kalian adalah) Hasil dari ilmu pengetahuan serta teknik genetika paling mutakhir yang pernah dikenal dunia. Kemampuan kalian takkan bisa dibatasi oleh kemampuan manusia pada umumnya."



Meskipun lima anak ini adalah buah pernikahan Judge dengan sang istri, tetapi anak-anak tersebut dijadikan bahan percobaan untuk membentuk pasukan tempur yang sangat tangguh. Di antara keempat anak ini, Sanji adalah yang paling lemah di masa kecil karena kerangka luarnya belum terbentuk. Tetapi, Sanji (bersama Reiju) masih memiliki rasa manusiawi dalam dirinya. Berbeda dengan Ichiji, Niji, dan Yonji yang kejam dan tak kenal ampun.

Konsep anak-anak keluarga Vinsmoke ini mengingatkan kita pada serial super sentai, yang biasanya terdiri dari sentai yang berwarna-warni. Dalam hal ini, anak-anak keluarga Vinsmoke identik dengan warna masing-masing. Reiju adalah pink, seperti kebanyakan karakter wanita di super sentai. Sementara Ichiji, berwarna merah. Biasanya sentai warna merah adalah ketua kelompok. Dalam hal ini, Ichiji tampaknya memang yang terkuat.

Untuk melengkapi formasi, ada Niji yang warna biru, Yonji yang warna hijau, dan Sanji yang warna hitam. Tetapi gelar Sanji, meski memiliki unsur warna, berbeda dengan yang lain.  Kuroashi berasal dari bahasa Jepang, sementara julukan empat saudaranya berasal dari bahasa Inggris.



Berikut ini nama dan julukan anak-anak keluarga Vinsmoke

Vinsmoke Reiju  "Poison Pink" (ポイズンピンク)
Sesuai namanya, Reiju adalah anak tertua di keluarga Vinsmoke. Ia juga perempuan satu-satunya. Julukannya, Poison Pink berdasarkan kemampuan Reiju dalam mengolah racun. Ia yang menghisap racun yang menyerang Monkey D. Luffy.

Vinsmoke Ichiji "Sparking Red" (スパーキングレッド)
Ichiji, yang terkuat di antara anak-anak keluarga Vinsmoke, adalah anak lelaki tertua. Julukannya, Sparking Red, bisa jadi berkaitan dengan kemampuan mengendalikan cahaya.

Vinsmoke Niji "Electric Blue" (デンゲキブルー)
Niji adalah anak lelaki kedua di keluarga Vinsmoke. Sesuai julukannya, ia bisa mengelektrifikasi bagian tubuhnya baik untuk bertahan maupun menyerang lawan.

Vinsmoke Yonji "Winch Green" (ウインチグリーン)
Yonji adalah anak lelaki keempat di keluarga Vinsmoke. Julukannya, sebenarnya berarti kerekan atau mesin derek.

Vinsmoke Sanji' "Black Leg" (黒脚).
Sanji adalah anak lelaki ketiga di keluarga Vinsmoke. Kemampuannya lebih alamiah dibandingkan dengan yang lain. Tetapi kaki Sanji bisa terbakar saat mengeluarkan jurus pamungkasnya.